Minggu, 08 Agustus 2010

CINTA KASIH ALLAH KEKAL ABADI UNTUK SELAMANYA

“CINTA ALLAH KEKAL ABADI

UNTUK SELAMA - LAMANYA”

Bersama Rm. Fransiskus Xaverius Heriyatno.SJ, sejumlah mahasiswa STKIP Widya Yuwana Madiun melaksanakan kegiatan rettret tahunan yang dimaksudkan untuk memantapkan pilihan hidup menjadi pewarta kabar gembira Yesus Kristus sebagai katekis atau sebagai guru agama.

Rettret merupakan saat yang baik untuk berjumpa dengan Allah dalam keheningan dan kesunyian. Dalam situasi yang berbeda ini kita berusaha menemukan obat penawar kerinduan, kalau kita berjumpa dengan Allah maka didalamnya kita akan memperoleh cinta sejati, kegembiraan dan kedamaian oleh karena cinta Allah yang kekal abadi untuk selama-lamanya.

Matahari belum tenggelam, ketika acara rettret dimulai pada selasa 09 Februari 2010, pukul 16.30 di rumah rettret Panti Samedi Nasaret, Semarang.

waktu spesial segera dimulai, kata Rm. Heriyatno.SJ membuka session pertama, waktu spesial berarti, waktu untuk kita meletakan dasar sikap iman, kalau dasar iman sudah dipahami, maka pilihan hidup sebagai katekis adalah rahmat, panggilan yang harus terus menerus dimohonkan. Dan salah satu cara untuk memupuk spiritualitas hidup sebagai katekis ialah dengan menimba kekuatan Allah melalui perjumpaan dengan-Nya. Kegiatan rettret dalam beberapa waktu ini adalah salah satu caranya, tegasnya.

Jiwa kita butuh makan, bukan hanya tubuh saja yang perlu diberi makan, kalau jiwa kita tidak diberi makan, ia menjadi kosong, jika kosong, maka jiwa menjadi tidak berbeda dengan mayat yang berjalan, tanpa arah dan tujuan. Rettret juga dimaksudkan untuk memberi makan kepada jiwa, menemukan Allah yang sudah lebih dahulu mencintai kita tanpa syarat.

Melalui tokoh-tokoh dalam kitab suci kita bisa belajar banyak, harus diakui, bahwa dewasa ini tidak banyak kaum muda yang berani berkata lantang seperti Yesaya “Ini aku, utuslah aku” (Yes 6: 8), maka berbahagialah anda orang-orang muda yang bersedia menjawab panggilan Allah, entah dengan cara apa dan melalui peristiwa apa, yang terpenting adalah anda bersedia diutus kemanapun Allah mengehedaki.

Panggilan memang misteri, kita memahaminya tidak cukup hanya dengan rasio, tetapi lebih dari itu. Untuk memahami panggilan hidup yang kita jalani ini, kita membutuhkan “hati”, hati yang peka, hati yang terbuka, hati yang bersih dan hati yang penuh dengan kepasrahan secara total kepada rencana Allah. Abraham lebih memilih Ishkak daripada Ismael putra pertamanya. Ishkak berkeinginan memilih Esau, tetapi Allah ternyata mempunyai rencana yang lain, Yakub mendapat berkat dari Ishkak. Misteri panggilan dan pilihan Allah kerapkali membuat kita bingung, tetapi justeru itu yang dapat menguatkan kita orang-orang kecil dan lemah, orang-orang asing dan terpinggirkan menjadi kuat dan percaya, karena misteri panggilan dan pilihan Allah juga memberi gambaran pada misteri panggilan kita sebagai calon katekis, dengan demikian tidak ada lagi yang membuat kita takut dan khawatir. Percaya saja pada penyelenggaraan Allah.

YESUS ROTI HIDUP (YOH 6:51 – 58)

Lebih lanjut, Rm. Haryanto. SJ mengajak para peserta memahami Yesus sebagai roti hidup dan menyadari bahwa kita semua hidup karena roti yang turun dari surga. Allah berkehendak memberikan hidup abadi kepada umat-Nya di dalam Putra-Nya Yesus Kristus, Allah berkenan memberikan makanan sejati kepada umat manusia.

Sekarang Yesus memberikan dirinya melalui sakramen Ekaristi. Yesus menghendaki supaya peristiwa paska-Nya; wafat dan kebangkitan, menjadi jalan bagi keselamatan manusia dan senantiasa dirayakan dan dihadirkan yaitu melalui perayaan Ekaristi. Bagi umat beriman menyambut kehadiran Yesus dalam perayaan Ekaristi merupakan syarat supaya kita memperoleh hidup. Roti Tuhan yang kita terima dalam perayaan Ekaristi, bukanlah roti ajaib; kita minum anggur Tuhan itu juga bukan merupakan anggur kuat yang membuat kita secara otomatis menjadi lebih suci dan slamat. Yang diharapkan adalah hubungan timbal balik, kita menerima dan mengasihi-Nya, sebab Dia telah lebih dahulu mengasihi kita dengan memberi hidup dan nyawa-Nya demi keselamatan kita.

Namun agak sulit bagi kita memahami roti sebagai makanan, karena itu identik dengan makanan orang Eropa, maka beliau berikutnya memberikan penjelasan yang mudah dimengerti oleh para peserta – orang-orang Indonesia, yaitu dengan mengutip pemaparan seorang teolog dari Jepang; Masao Takenaka (1986). Untuk orang Jepang dan untuk orang Indonesia (Asia) kita lebih cocok mengatakan kalau roti hidup itu adalah “nasi”. Nasi merupakan bagian terpenting bagi hidup sebagian besar orang Asia, kita membutuhkannya setiap hari.

Untuk memperjelas pemaparan yang di ambilnya dari teolog terkenal dari jepang, maka romo yang berasal dari Gondang itu mengutup juga suatu puisi menarik bagi para peserta:

Surga adalah nasi

Seperti kita tidak dapat masuk surga sendirian

Kita harus saling memberi nasi untuk saudara-saidari kita

Dengan itu kita saling membagi terang surgawi

Kita harus membagi dan makan nasi secara bersama-sama

Surga adalah nasi

Ketika kita makan dan menelan nasi

Suarga berdiam di dalam tubuh kita

Nasi adalah surga

Ya, betul, itulah soal penting untuk nasi

Kita harus memakannya bersama-sama

Puisi ini memberikan gambaran terpenting bagi kita, terutama dalam membangun hidup commonio. Nasi surgawi dianugerahkan oleh Allah kepada kita semua, untuk hidup dan keselamatan kita. Dengan memakannya bersama-sama dengan adil dan penuh cinta kasih, kita dapat hidup dalam suasana harmonis dan damai. Tentu kita harus menyambut Yesus dengan penuh bakti dan syukur serta dengan semangat rendah hati, seperti sikap seorang perwira yang menyatakan “Tuan aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka aku akan sembuh (bdk. Mat 8:8).

YESUS AIR HIDUP (YOH 7:37 – 38 )

"Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup."

Kita diundang untuk menanggapinya, dan memang sabda undangan Yesus adalah sabda yang menyegarkan, memperkembangkan dan memberikan buah yang melimpah. Sebagai calon katekis, kita diharapkan sekaligus menjadi pendengar dan pelaksana sabda-Nya yang setia.

Dalam kehidupan sehari-hari tanpa kehadiran dan penyertaan Yesus, yang akan berkembang adalah cinta diri, dan itu sipatnya sangat sempit, berat sebelah dan bahkan dapat menghalangi perkembangan diri. Kalau terlalu sibuk dengan diri sendiri kita tidak dapat menemukan makna kristiani dari pergulatan hidup kita, wawasan menjadi sempit dan hidup menjadi hampa. Maka kita sungguh merindukan, mengharapkan dan membutuhkan bantuan Yesus.

Untuk itu Rm. Haryanto. SJ mengutip lagi amanat Kolumbanus yang turut menggemakan undangan Yesus sebagai berikut:

Saudara-saudari terkasih, dengarkanlah kata-kataku, bagaikan orang yang ingin mempelajari sesuatu yang pokok; lepaskanlah dahaga jiwamu dengan aliran sumber Ilahi. Tetapi jangan haus itu dipadamkan, minumlah, tetapi jangan menjadi puas; sebab sekarang ini sumber hidup, sumber air penghidupan memanggil kita dengan berkata “barang siapa haus, hendaklah datang kepadaKu dan minum”. Apa yang harus kamu minum? Yeremia akan menuturkan itu kepadamu, biar sumbernya sendiri yang akan mengatakannya kepadamu: ‘mereka sudah meninggalkan aku, sumber air hidup, sabda Tuhan’. Jadi Tuhan sendiri, Tuhan kita Yesus Kristus, adalah sumber hidup. Ia memanggil kita kepada-Nya, sang sumber, agar kita minum dari pada-Nya. Barang siapa cinta, ia minum dari pada-Nya; barang siapa telah dipuskan oleh sabda-Nya, telah menyembah secukupnya, dan telah mendamba, ia minum, demikian pula yang bernyala karena cinta akan kebijaksanaan.

Beginilah sepenggal kutipan yang disampaikan romo pendamping rettret kepada para peserta yang terdiri dari orang-orang muda, calon katekis, untuk membantu mereka lebih memahami makna roti Tuhan dan air Tuhan yang diberikan oleh Yesus untuk keselamatan jiwa dan raga.

KEKHASAN CINTA KRISTIANI

Untuk para calon katekis muda dan kelak akan berkarya dalam kehidupan masyarakat, baik kalau mereka diperkenalkan dengan arti mencintai, bukan sekedar itu, mereka harus belajar beberapa sifat khusus seni mencintai yang diajarkan oleh Yesus. Agar nanti, para katekis ini mampu memberikan cinta yang sejati; cinta Yesus, dalam pelayanan mereka kepada masyarakat untuk mengabarkan injil bagi banyak orang.

Cinta lekat dengan kehidupan kaum muda, tetapi cinta seperti apa? Ini yang perlu dipertanyakan dan dimurnikan.

Dalam hal ini, Rm. Haryanto, SJ selaku pembimbing rettret menawarkan suatu bentuk cinta yang tidak lazim di mengerti kaum muda, yaitu bentuk cinta yang dilakukan Yesus dengan kematian-Nya yang paling “hina” di kayu salib.

Mencintai Lebih Dahulu

Cinta Allah dalam Yesus dengan karunia Roh Kudus murni adalah tanpa jasa kita. agar kita pun tidak dipengaruhi oleh pamrih pribadi dan tidak mengharapkan apapun demi kepentingan pribadi. Cinta ini tidak hanya diberikan saat kita dicintai atau ketika ada motivasi yang lain, seperti biasa dalam persahabatan.

Cintailah terlebih dahulu, ambillah inisiatif. “Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh 4:19) dan kita harus berbuat demikian terhadap sesama kita, jangan menunggu untuk dicintai oleh orang lain, tetapi buatlah terobosan dan mulailah mencintai. Demikian ajakan St. Yohanes Chrysostomus. Dan yakinlah bahwa cinta itu dapat menular, maka mulailah dari anda dan tularkan cinta sejati kepada orang-orang disekitar anda.

Mencintai Setiap Orang

Jangan mencintai orang-orang dengan membeda-bedakan mereka, agar cinta Allah bersinar dalam kehidupan kita. “Allah menerbitkan matahari bagi orang jahat dan orang baik” (bdk. Mat 5:45), kita diundang menjadi matahari-matahari kecil dari matahari cinta Allah, maka dengan demikian setiap orang adalah sasaran cinta kita, untuk itu kita perlu berjumpa dengan mereka.

Kita perlu mendengar kutipan kata-kata ibu theresa “saya tidak pernah merawat semua orang, hanya pribadi-pribadi tertentu, “setiap orang memberi saya kemungkinan untuk mencintai Kristus. Satu saudara itu sudah cukup – ia yang karena kehendak Allah ditempatkan didepan saya – menjadi jalan yang personal saya dengan Yesus sendiri.

Mencintai Musuh

Mencintai musuh merupakan ciri khas cinta kristiani, bentuk cinta yang tidak pernah bisa dipahami tanpa iman. Cinta bentuk ini adalah cinta yang dituntut oleh Yesus jika kita hendak menciptakan perdamaian sejati. “apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu......apabila kamu memberi salam kepada saudara-saudaramu saja...bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian, tetapi aku berkata kepadamu: “kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 46 – 47).

Perintah untuk mencintai musuh oleh Yesus bukanlah kata-kata kosong, tetapi Dia sendiri telah lebih dahulu melakukannya, kita ingat peristiwa ketika Yesus di perlakukan seperti bukan manusia di bukit Golgota, tempat Ia disalibkan. Dengan tenang Ia berdoa bagi mereka yang membenci-Nya. Suatu sikap yang tidak dapat ditangkap oleh rasio, tetapi hanya dapat dipahami dengan iman.

Mencintai dengan Memberikan Hidupmu

Yesus adalah Allah dan cinta Yesus tidak terbatas. Ia mencintai dengan memberikan diri-Nya, utuh. Penginjil Yohanes memberikan kesaksian bahwa Yesus telah mencintai sahabat-sahabat-Nya, sampai memberikan nyawa-Nya dan tidak ada cinta yang lebih besar dari itu (Yoh 15:13). Yesus memberikan segala-galanya, tubuh-Nya sebagai makanan dan darah-Nya sebagai minuman dalam rupa Ekaristi. Maka dengan demikian, sebagai murid kita juga diundang untuk menghayati cinta yang demikian. Siap memberikan hidup kita kepada orang-orang yang bekerja sama dengan kita, siap memberikan hidup kita satu dengan yang lain.

Mencintai dalam Pelayanan

Melayani berarti menjadi pribadi demi kepentingan orang lain (man or women for others) termasuk menyamakan diri kita dengan mereka yang dilayani, merasakan suka–duka mereka, belajar berpikir seperti mereka, merasakan pergulatan hidup mereka dengan hati mereka, menghayati hidup mereka dan berjalan dengan menggunakan sandal mereka. Untuk suatu pelayanan, Yesus dengan sempurna telah memberikan contoh kepada kita “Dia merendah dihadapan para murid dan dengan penuh pelayanan membasuh kaki mereka satu demi satu, dan kata-Nya: “supaya kamu berbuat sama seperti yang telahKu perbuat kepadamu” (Yoh 13:15)

Ibu Theresa mengajarkan dan memberikan contoh pelayanan yang relevan bagi kita di zaman ini. Pelayanan tidak harus besar tetapi perbuatan kecil dengan cinta yang besar. Demikian juga shering pengalaman yang penuh inspiratif bagi kita dari seorang uskup bernama Nguyun Van Thuan saat di penjara dan ketika ia merenungkan panggilan orang Katolik.

Ketika dalam penjara ia bersahabat dengan banyak orang yang mengalami nasib sama sebagai korban ketidakadilan. Ia juga bersahabat dengan para penjaga penjara. Dalam penjara ia membuat salib dan kalung, hal itu bukan untuk mengingatkannya pada penjara, tetapi keduanya menyatakan keyakinan uskup tersebut bahwa cinta kasih kristianilah yang dapat mengubah hati, bukan senjata, ancaman atau media massa. Kasih mengalahkan segala sesuatu. Kasih mempersiapkan jalan bagi injil, jika kasih adalah kasih sejati, maka ia telah menggerakan untuk menanggapi kasih yang lebih besar. Dengan demikian kasih baru yang di ajarkan Yesus sungguh-sungguh terwujud “kasihilah satu sama lain sama seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12) kasih timbal balik adalah seni mencintai.

Bunda Maria memiliki seni mencintai yang sempurna. Ia seperti bulan yang memantulkan cahaya keindahan matahari yang adalah Yesus, semua perasaannya dan khususnya kasihnya. Di luar Tritunggal Mahakudus, orang katolik tidak dapat menemukan kasih Allah, dan kasih semua umat manusia yang setara dengan kasih bunda Maria.

Seni mencintai adalah mencintai Yesus (Yesus adalah cinta). Seni mencintai adalah mencintai sama seperti bunda Maria dalam mencintai. Maria adalah cinta yang diterima, mengapa demikian? Segala sesuatu berasal dari Allah, datang dari tempat yang tinggi dan bunda Maria telah menyambutnya dengan penyerahan diri, penuh iman dan syukur. Cinta yang dibalas, artinya ia telah menjawab tawaran Allah dengan seluruh keberadaannya “jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). dan Maria adalah cinta yang dibagi, maksudnya: Maria yang menerima anugerah Allah, menyambut dan membaginya kepada Elisabet, saudaranya dan anak yang dikandung Elisabet melonjak kegirangan serta cinta itu telah dibagikannya kepada kita pula. Kita telah memperoleh bagian dari anugerah Maria melalui Gereja secara misterius. Semua yang menerima cinta yang dibagi-bagi itu memperoleh kebahagian dan kegembiraan dalam Tuhan.

SUKACITA

Ada banyak alasan bagi kita ketika berusaha menanamkan sukacita dalam hati kita. Namun hati yang bersukacita dan bergembira adalah hasil wajar dari hati yang terbakar karena cinta ialah benar!. Sukacita adalah doa, kekuatan dan cinta, orang akan memperoleh lebih banyak kepada hati yang rela memberi dengan sukacita. Sukacita tidak dapat disembunyikan, ia memancar dari mata kita dalam pengelihatan, percakapan dan kesenangan kita. Kita tidak kuasa untuk menutup-nutupinya karena ia akan meluap. Sukacita itu menular, maka dari itu, cobalah penuhi diri kita dengan sukacita kemanapun kita akan pergi.

Sukacita harus menjadi salah satu dari proses kehidupan kita, karena itu merupakan bukti kepribadian yang murah hati. Kita yang sampai pada kesadaran ini mempunyai anugerah kehidupan yang tertinggi, seperti matahari bersinar cerah dalam komunitas dan lingkungannya. Maka dalam hal ini, baiklah kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita mempunyai dan mengalami kegembiraan untuk mencintai. Kata ibu Theresa “mencintai sampai sakit dan terluka akan membawa kegembiraan dan sukacita tersendiri bagi yang melakukannya. Oleh karena itu kita terus berdoa memohon kekuatan dan keberanian untuk mencintai. Menurut St. Bonaventura sukacita adalah sesuatu yang telah diberikan kepada manusia sehingga dia dapat bergembira di dalam Allah karena pengharapan akan kebaikan abadi dan semua keuntungan yang dia terima dari Allah, maka kita tahu bagaimana bersuka cita terhadap apapun, karena Allah, tidak pernah puas dengan hal-hal kosong yang sia-sia.

Penjelasan tentang sukacita ini dikutip Rm.Hariyanto. SJ dari renungan Becky Benenate (ed.), In the Heart of the World: hidup untuk Allah. Dan disarinya juga dari pandangan A. De Mello.

KARENA DEUS CARITAS EST: ALLAH ITU KASIH (1 Yoh 4: 7–21)

DAN KITA DI UTUS MENGASIHI DIDALAM SEGALANYA

Pada hari trakhir rettret, Rm. Hariyatno Mengajak sejumlah peserta untuk merenungkan ajakan Paus Benediktus XVI dalam melangkah, meniti dan menghayati panggilan sebagai calon-calon katekis, dalam cinta yang bersumber pada cinta-Nya yang kekal dan abadi. “Cinta” merupakan kesimpulan dari seluruh perjalanan rettret selama 4 hari, katanya.

Pada tanggal 25 Januari 2005 paus Benidiktus XVI menerbitkan ensikliknya yang pertama, berjudul Deus caritas est – Allah adalah cinta. Cintanya yang kekal selalu mengundang, memperkembangkan, dan meneguhkan harapan kita untuk melangkah lebih mantab di hari esok. Cinta Allah itu istimewah yang di lukiskan pada masing-masing nama kita pada telapak tanggan-Nya (bdk. Yes 49:16). Cintanya tetap mengalir walaupun kita gagal, kecewa dan lemah. Karena itu, cinta Allah menjadi sumber harapan yang bernyala dalam hati kita, menyalakan kembali terang yang lebih besar serta daya kekuatan kita yang sering timbul tenggelam.

Hidup dan iman orang kristiani dibangkitkan oleh perjumpaan dengan Allah yang telah berbagi hidup, kalau kita terus melangkah maju Dia selalu hadir, dalam usaha kita Dia turut berjerih payah, dan jika kita mencintai segalanya mengalir dari atas didalam dan melalui Roh-Nya, Allah berkarya agar kita dimasa-masa yang akan datang hidup dalam kebaikan dan kebenaran.

Dengan penuh harap, pada hari trakhir retret, Rm. Hariyatno. SJ sekali lagi mengajak para peserta – orang-orang muda – mahasiswa, membaca dan merenungkan Deus caritas est: Allah itu kasih. Sehingga dengan demikian rettret yang telah berjalan selama 4 hari menghasilkan buah yang berlimpah dalam pelayanan anda semua. (Ditulis oleh FX. Samson)

Kamis, 20 Mei 2010

KAUM MUDA

KAUM MUDA TULANG PUNGGUNG GEREJA

FX. SAMSON

Kaum muda adalah tulang punggung dan harapan di tengah masyarakat dan dalam Gereja. Kaum muda adalah realitas hari ini bukan sekedar harapan untuk hari esok, mereka adalah sumber energi dan vitalitas bagi keberadaan masyarakat dan Gereja dari waktu ke waktu. Kekuatan dan keberadaan mereka yang esensial itu menuntut adanya perhatian khusus dari pihak-pihak pemerhati kaum muda yaitu para orang tua, negara dan Gereja. Seperti yang diungkapkan Dokumen Konsili Vatikan II dalam deklarasi pendidikan kristen Gravissimum Educationis (GE)

Perlu disadari bahwa dalam proses kreatif, jiwa, darah, semangat dan gejolak muda tidak jarang menjebak mereka pada sikap dan tindakan yang kurang tepat, karena gejolak mudanya yang emosional dan sulit diatur, sering kali tidak terkontrol. Namun orang muda butuh pengalaman, dalam usia mudanya ia menggunakan segenap kemampuan dan talentanya yang sedang dicari dan dikembangkan, mereka terus mencoba dan berjuang dengan semangat mudanya. Di sinilah kehebatan sekaligus jebakan yang sangat membahayakan bagi kehidupan mereka selanjutnya. Kaum muda berjiarah bersama jaman, mereka berlari secepat waktu yang terus berlalu, bila tidak demikian mereka akan dikatakan ketinggalan jaman. Mereka masih lemah dan rapuh serta seringkali dikorbankan oleh struktur-struktur penindasan dalam dunia dewasa ini.

Situasi kaum muda hendaknya dipahami dari berbagai realitas kompleks, dan latar belakang kehidupan mereka di tengah dunia dimana mereka hidup. Berbagai bentuk perubahan yang cepat dan drastis dalam segala bidang kehidupan, bidang kebudayaan, politik, sosial ekonomi, serta ledakan media massa, secara radikal berdampak bagi kehidupan kaum muda diseluruh penjuru dunia. Kaum muda dengan segala macam latar belakang, kaya dan miskin, kota dan desa, terpelajar dan bodoh, bekerja atau menganggur, terorganisasi atau tidak terorganisasi, semuanya sedang terombang ambing oleh gelombang kebudayaan kontemporer. Memahami dan menyikapi situasi dan kondisi kaum muda perlu diusahakan penanganan yang ekstra, oleh para orang tua, negara dan Gereja.

Pesoalan sekarang ialah, bagaimana membuat kaum muda mempunyai Roh yang mampu menggiring mereka kepada harapan dan cita-cita para orang tua, masyarakat dan Gereja. Roh tidak dibatasi oleh ruang, dan kaum muda memiliki roh yang sangat kuat dan sanggup menghantam segala rintangan demi tujuannya, cita-citanya dan harapannya. Tugas para orang tua, masyarakat dan Gereja untuk memberi ruang gerak, mendidik, mengarahkan bagi kekuatan roh yang sudah mereka miliki, agar mereka mampu menjadi peribadi-peribadi pembangun yang handal.

Gereja secara khusus telah berusaha dengan segala daya upaya memberikan pendampingan kepada kaum muda dengan berbagai bentuk pendampingan kategorial kaum muda. Secara sederhana dapat dirumuskan tujuan pelayanan pembinaan kaum muda dalam Gereja dengan dua kata “kedewasaan iman” artinya bahwa Kristuslah yang menjadi sumber dan tujuan serta tolak ukur dari kewasaan tersebut.

Hendaknya Roh yang mereka miliki adalah Roh Kristus. Roh Kristus itulah yang menjadi pendorong gerakan kaum muda dalam kaitannya dengan peranan mereka di tengan masyarakat dan dalam Gereja. Di atas telah dikatakan bahwa orang muda berjiarah bersama waktu dan berlari secepat waktu. Memahami situasi ini berarti memahami apa yang harus dilakukan Gerja khususnya dan pendamping/pemerhati kaum muda pada umumnya. Berlari bersama kaum muda bukan berarti mengawasi, mendeteksi atau membatasi gerak langkah kaum muda. Tantangan para orang tua, masyarakat dan Gereja serta pemerhati kaum muda dewasa ini ialah bagaimana memformat pendampingan yang relevan dengan kebutuhan kaum muda sekarang.

Secara konseptual pendampingan perlu diarahkan pada dua aspek yaitu aspek pengembangan iman menuju kedewasaan iman dan aspek pengembangan hidup sosial kaum muda. Pendampingan kaum muda hendaknya mengarahkan mereka untuk melihat dan menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi disekeliling mereka. Kedua aspek tujuan pendampingan kaum muda menyangkut dua dimensi fundamental, yaitu demensi vertikal berkaitan dengan relasi dengan Allah sebagai Bapa dan dimensi horisontal berkaitan dengan relasi terhadap sesama.

Jadi jelas bahwa kedewasaan iman yang diharapkan untuk diarahkan kepada kaum muda bukan hanya soal hubungan pribadi dengan Allah dalam pelaksanaan kegiataan ibadat seputar altar saja, tetapi menyangkut semua segi kehidupan manusia seutuhnya, yaitu relasi yang harmonis dengan Allah Bapa dalam putra-Nya Yesus Kristus sebagai Roh yang memberi kekuatan dan dinyatakan dalam hidup dengan sesama baik dalam komunitas kecil “keluarga” maupun komunitas dalam masyarakat yang lebih luas.

Berbagai metode dan serategi pembinaan kaum muda adalah usaha untuk menjawab tantangan Konsili Vatikan II dalam Gravissimum Educationis(GE) bahwa yang bertanggungjawab atas pembinaan dan pendidikan kaum muda ialah para orang tua, negara dan Gereja. Ketiga lembaga ini harusnya bergandeng tangan untuk menjadikan kaum muda sebagai manusia dewasa yang mampu berdiri sendiri dan bertanggung jawab serta berguna bagi sesama dan masyarakat sebagai perwujudan cinta kepada Kristus.

Pertanyaan yang perlu menjadi refleksi sekarang ialah sanggupkah para orang tua, negara dan Gereja menjadikan kaum muda ibarat air? yang mampu memeberikan manfaat, kesejukan, kenikmatan, dan kepuasan saat meneguknya. Bisakah para orang tua masyarakat dan Gereja dapat dilebur bersama uniknya kaum muda sehingga menjadi dinamis dengan karya kritis dan produktif laksana air sungai yang mengalir terus? Ataukah para orang tua, masyarakat dan Gereja akan menjadi bumerang yang akan menelan kreatifitas dan kesanggupan kaum muda dalam mencapai pribadi-pribadi yang mandiri dan matang bagi kehidupan Gereja dewasa ini.

Sesungguhnya Gereja kaum muda yang efektif adalah Gereja kaum muda yang berkontribusi bagi sesamanya, tidak diam! air diam akan menjadi kotor dan menjadi sumber penyakit, lain halnya dengan mengalir. Gereja yang berguna adalah Gereja yang sanggup bersosial dengan sesamanya dan alam sekitarnya. Kehadirannya memberikan kenyamanan dan kenikmatan bagi masyarakat disekitarnya jauh dari prinsip homo homini lupus bahkan dirindukan selalu hadirnya (77X7X).

STKIP WINA Mahasiswa Fakultas Pendidikan Teologi (Guru Agama Katolik)

Di terbitkan pada Majalah BERKAT (Keuskupan Malang)

POLITIK

BERPOLITIK UNTUK MENGUBAH SISTEM DARI DALAM


Apatisme politik tidak boleh diteruskan sebab tidak akan membawa bangsa ini pada perubahan. Perubahan akan tercapai jika umat katolik dengan dijiwai spiritualitas kristiani turut serta dalam kehidupan politik.

Hal itu disampaikan Vikaris Jendral Keuskupan Surabaya, Rm. PC. Edi Laksito, Pr. dalam diskusi bertema, “Apatisme Politik Kaum Muda” usai pelantikan Dewan Pimpinan Cabang PMKRI Cabang Madiun “Sanctus Ambrosius” Periode 2008-2009 di aula kampus STKIP Widya Yuwana Madiun (28/9).

Lebih lanjut mantan moderator PMKRI Surabaya ini mengatakan bahwa apatisme politik seringkali dipraktekkan oleh umat katolik terutama kalangan muda. Padahal menurutnya, umat katolik relatif memahami kondisi sosial kemasyarakatan di negeri ini. Memang, apatisme politik memiliki alasan antara lain, adanya ketidakpercayaan pada organisasi politik sebab kesejahteraan umum yang dijanjikan tidak tercapai, pemilu tidak memberikan keuntungan secara langsung kepada masyarakat pemilih, lembaga politik tidak mengembangkan masyarakat, demokrasi yang berjalan tanpa roh sama sekali, politik dijadikan sebagai arena bisnis (money politics), dan tidak adanya figur pemimpin yang mampu menggetarkan hati. Namun, sikap tersebut kurang tepat sebab hanya keterlibatanlah yang mampu melakukan perubahan.

Di hadapan peserta yang terdiri atas mahasiswa dari organisasi intra dan ekstra kampus, kelompok kategorial Gereja, dan tokoh umat tersebut beliau menegaskan bahwa negara itu perlu dan dikehendaki Tuhan dan tidak ada iman yang menentang negara. Seperti halnya dengan Gereja, negara pun membutuhkan pemimpin yang bertugas untuk membawa masyarakat pada kesejahteraan. Umat katolik perlu melahirkan sikap kritis sebagai langkah awal membuka kesadaran politik. Dengan demikian, umat katolik dapat berperan serta dalam dinamika politik negeri ini dengan membangun rasa cinta tanah air tanpa membedakan golongan. “Bangsa ini milik semua orang Indonesia yang membutuhkan kepedulian dan keterlibatan semua warga tanpa mengenal sekat-sekat perbedaan”, katanya sambil memberi dorongan.

Selain Vikjen Keuskupan Surabaya, turut berbicara pula salah seorang anggota penyatu PMKRI, Drs. Antonius Sudarmanto, MS. Senada dengan Vikjen, Dosen Universitas Widya Mandala Madiun yang menjabat anggota KPUD Kota Madiun tersebut mengatakan bahwa apatisme politik membuat kita tidak memiliki akses terhadap politik. Dengan demikian, jika ada kebijakan politik yang merugikan masyarakat termasuk produk undang-undang yang bernuansa diskriminatif, jangan sekali-sekali mempersalahkan politisi sebelum mempersalahkan diri sendiri yang tidak mau terlibat dalam bidang politik.

Salah satu dari dua anggota KPUD yang beragama katolik di seluruh Jawa Timur itu mengatakan bahwa politik itu baik sehingga tidak perlu dihindari. Kalaupun ada stigma bahwa politik itu kotor, orang katolik harus terpanggil dan terlibat untuk melakukan perubahan sistem dari dalam sehingga politik kembali pada tujuan sebenarnya yaitu untuk kebaikan semua orang. Kalah menang dalam politik bukan hal yang hakiki tetapi setidak-tidaknya kita harus merasa bangga sebab kita sudah menanggapi panggilan untuk menjadi pelayan melalui dinamika politik di negeri ini. “Kita dipanggil untuk berpolitik. Politik memungkinkan orang katolik untuk memberikan pelayanan bagi orang lemah dan tertindas. Kaum muda katolik bisa memulainya dengan belajar melalui organisasi-organisasi seperti PMKRI”, sambungnya.

Sementara itu, Ketua Presidium DPC PMKRI Madiun “Sanctus Ambrosius” Periode 2008-2009, Yohanes Manasye dalam sambutan pelantikannya mengajak kaum muda terutama mahasiswa yang tergabung dalam PMKRI untuk memaknai kembali semboyan misioner Pro Eclesia et Patria yang menurutnya sering kali dipekikkan dengan tanpa kesadaran dan pemaknaan. Menurutnya, apatisme merupakan pengingkaran terhadap misi Gereja di tengah dunia. Sebagai bagian dari Gereja, PMKRI berkewajiban untuk menghadirkan wajah Gereja dalam pergumulan masyarakat. Selain itu, kaderisasi dalam PMKRI harus mampu melahirkan calon-calon pemimpin berintegritas katolik sebagai jawaban atas krisis kader pemimpin di negeri ini. (77X7X)

Mahasiswa dan anggota PMKRI Cabang Madiun, “Sanctus Ambrosius”

Diterbitkan pada Majalah Mingguan Hidup (Jakarta)

EUTANASIA

EUTANASIA

“Tak Cukup Cuma Teriak!

FX.SAMSON


Secara etimologis euthanasia berasal dari kata bahasa Yunani yaitu: eu = baik, thanatos = kematian. Euhanateo = aku menjalani kematian yang layak, dan euthanatos (kata sifat) = mati dengan mudah.

Dalam perkembangan selanjutnya eutanasia mendapat perhatian yang serius dari ajaran sosial Gereja karena adanya pergeseran makna sesungguhnya. Sangat tepat bila tulisan-tulisan Yohanes Paulus dimulai dari pandangan mengenai martabat pribadi manusia yang tidak bisa diganggu-gugat dan ungkapannya untuk menekankan penghargaan akan hak asasi manusia.

Dalam etika kedokteran yang kontrovisial dan hangat didiskusikan, karena hidup yang sudah sangat lemah, berkat perawatan dan pengobatan yang sangat mutakhir makin hari makin berhasil diperpanjang. Usaha mendampingi secara rohani dan manusiawi pasien yang akan meninggal dengan perawatan penuh kasihsayang dan pengobatan yang mengurangi penderitaan (walaupun dapat memperpendek hidup) tidak menjadi soal bagi etika medis. Berdasarkan prinsip dwi-akibat, obat bius boleh digunakan untuk menghilangkan penderitaan yang sangat berat, sekalipun hal ini mengakibatkan hidupnya lebih pendek. Orang yang sakit parah atau walinya juga boleh menolak untuk menempuh perawatan yang luar biasa. Sekalipun penolakan ini mengakibatkan hidup si penderita berakhir lebih cepat. Eutanasia pasif, artinya tidak berbuat sesuatu untuk memperpanjang hidup, diperbolehkan dengan alasan yang wajar, misalnya karena pasien memang sudah pada waktunya dan / atau sudah mau meninggal, karena memperpanjang penderitaan sudah tidak manusiawi lagi atau terlalu mahal. Namun terkadang batas antara eutanasia pasif dan eutanasia aktif atau ‘marcy killing’, ialah tindakan sengaja untuk mempercepat kematian sering kali tidak jelas.

Apapun alasannya tetap saja eutanasia ialah Pengambilan hak hidup/hak asasi yang paling dasar terhadap mereka yang lemah, dan kini mulai membudaya. Dalam budaya ini pihak yang lemah perlahan-lahan makin dikuasi, kita justru mengabaikan hak untuk hidup sebagai hak asasi paling mendasar. Hal ini nampak bahwa masyarakat moden menempatkan kerja dan hasil-hasil kerja sebgai kegemaran mengkonsumsi barang dan gagasan pemenuhan potensi seseorang. Hal ini sudah mempengaruhi keluarga sebagai bangunan yang paling dasar. Celakanya: Keluarga-keluarga ternyata menjalankan peranan utama dalam menentang “budaya kehidupan”. Dengan keras Yohanes Paulus II menentang sikap demikian. Sikap Yohanes Paulus II ini didukung oleh adanya perintah untuk jangan membunuh (perntah Allah ke lima), dalam Matius 5: 21 dikatakan “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum”. Ini memberi arti bahwa tidak seorang pun berhak untuk mengkhiri hidup orang lain dengan cara apapun dan maksud apapun. Kitab Ulangan 32: 39 menjelaskan “Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorang pun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku” Demikianlah Kitab Suci memberikan jawaban atas tindakan pembunuhan termasuk didalamnya tindakan eutanasia.

Eutanasia sebagai tindakan pelecehan terhadap hak asasi manusia, anatara lain sebagai akibat dari ketidakseimbangan antara : efisiensi ekonomi, keadilan sosial dan kebebasan individu. Hal ini menjerumuskan manusia pada sikap mementingkan diri sendiri ”siapa sesamaku” Mereka kini mempertimbangkan aspek “milik, tindakan dan pruduksi” sesama. Hak dasar(kriteria) manusia yang mengundang tanggapan, kemurahan dan pelayanan kini diganti dengan kriteria efesiensi, fungsionalisme dan nilai guna. Ini adalah perendahan kepada pihak yang lemah dan tidak berdaya, salah satu akibatnya tidak menutup kemungkinan euthanasia diilegalkan atau terlaksana secara diam-diam bahkan oleh badan yang mempertahankan “budaya hidup”. Meskipun hak asasi manusia selalu dikumandangkan dengan gencar, ironisnya pelecehan terhadap hak hasasi manusia tetap saja terjadi dengan alasan-alasan yang keliru, terutama hak atas hidup. Yang paling menghawatirkan ialah, kejahatan terhadap kehidupan seperti praktek eutanasia juga aborsi semakin diterima bahkan oleh badan yang seharusnya mempertahankan “budaya hudup” dan yang semestinya mendukung hidup dalam keluarga. Akar dari permasalahan itu adalah konsep dan pemahaman modern yang keliru serta kepastian-kepastian kono tentang kemanusiaan, tatanan moral dan relasi manusia dengan Allah telah digantikan dengan ketidakpastian dan skeptisisme. Sesungguhnya “budaya kematian” tidak dapat diartikan sebagai sesuatu yang terisolasi atau muncul karena adanya kesempatan dan alasan kemanusiaan yang merugikan pihak lemah atau si sakit berat, bahkan oleh diri sendiri untuk menghendaki kematian tidaklah dapat dibenarkan. Ajaran sosial Gereja yang mendasarkan ajarannya pada penghargaan tertinggi terhadap hak setiap orang untuk tetap hidup layak serata pencerahan Ilahi. Yohanes Paulus menyatakan dengan tegas (dalam kuasa infabilitasnya)”atas kewibawaan yang oleh Kristus dilimpahkan kepada Petrus dan para penggantinya dan dengan persekutuan para Uskup Gereja Katolik, kami meneguhkan bahwa pembunuhan manusia yang tidak bersalah secara langsung dan sengaja selalu merupakan pelanggaran moral yang berat.

Perlu disadari bahwa Gereja tidak cukup hanya dengan bersuara melalui ajaran moralnya tetapi sikap dan tindakan mesti diupayakan untuk menindaklanjuti pada perbuatan kongrit akan situasi dewasa ini. Sikap kongrit yang dimaksud di sini ialah membantu dan memperhatikan yang sakit dan tak berdaya lalu mendukung adanya eutanasia apalagi hanya karena alasan biaya. Bantuan dapat berupa moril maupun materil. Bila ditinjau secara biblis Injil Matius 25:40 mengatakan “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” . Tugas etika terkait dengan pengambilan keputusan euthanasia yang ditentang terutama oleh Gereja dan mereka yang berkehendak baik ialah menawarkan untuk menentukan pilihan-pilihan yang manusiawi, yaitu martabat hidup pribadi yang tidak bisa ditawar-tawar, sebagai hak asasi manusia/anugrah Tuhan).(77X7X)

STKIP WINA

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Teologi (Pendidikan Guru Agama Katolik)

Diterbitkan pada Majalah Mingguan Hidup (Jakarta)

ABORSI

ABORSI KONSILI VATIKAN II

Ada film dokumentasi tentang proses aborsi yang berjudul "The Silent Scream" & "Hard Truth". Film ini sangat-sangat mengerikan, maka bagi siapa saja yang bermaksud melakukan aborsi (pengguguran kandungan) tontonlah film ini. Film ini akan menyadarkan anda betapa kejamnya tindakan aborsi, yang dilakukan terhadap manusia yang tidak berdosa. Sama seperti apa yang telah kita lakukan terhadap Yesus Sang Putera Allah yang tidak berdosa, namun mati demi umat manusia. Tidak cukup sadarkah kita telah melakukan dosa demi kepentingan diri sendiri.
Aborsi sebagai hasil dari tindakan yang tidak bertanggungjawab adalah tindakan yang tidak bermoral, dan itu sama saja dengan membunuh, ironisnya telah membunuh seorang bayi ciptaan Tuhan, sama dan sederajat dengan ciptaan Tuhan lainnya, jika ia yang masih calon bayi sama dan sederajat dengan manusia lainnya berarti ia juga mempunyai hak dasar yang sama yaitu hak untuk hidup layak, dihormati, dilindungi secara absolut sejak saat perubahannya di dalam rahim seorang ibu.
Ilmu pengetahuan menyebutkan, pada saat seperma dan sel telur bertemu, mereka itu menjadi susunan yang lengkap dan sempurna dan kemudian berkembang menjadi manusia dewasa, setiap perubahan yang terjadi hanyalah peroses pematangan, jadi tidak ada yang ditambahkan kecuali disempurnkan.
Perkembangan ilmu pengetahuan telah berhasil mengajak manusia berpikir instan dan melupakan eksistensi diri sebagai ciptaan yang paling luhur. Kecenderungan mengejar materi seringkali menjadikan orang tua melupakan tugas mendidik, membimbing, menuntun dan mengawasi anak dalam keluarga, akhirnya anak hidup secara tidak terkontrol, adanya pergaulan bebas, hidup tidak mempunyai arah yang jelas, mengkonsumsi obat-obat terlarang dan sebagainya. Apakah kemerosotan moral kaum muda sekarang sepenuhnya adalah kesalahan mereka sendiri, orang tua dan masyarakat dan Gereja harus bersikap tegas untuk hal ini. Kemajuan tegnologi dalam dunia medis telah berhasil membantu para orang tua untuk mengetahui jenis janin dalam rahim sang ibu, dampak negatif kemajuan ilmu tegnoligi ini ialah merangsang orang tua untuk memilih-milih anak, misalnya jika yang diinginkan adalah anak laki-laki lalu ketika yang dinyatakan doter menurut pemeriksaan yang sangat canggih adalah anak perempuan dengan mudah orang tua memutuskan untuk menggugurkan atau mematikan bayi yang dikandungnya, tanpa memikirkan akibat yang terjadi kemudian seperti pendarahan, kangker rahim dan lain-lain yang dapat mematikan sang ibu. Ada banyak alasan melakukan aborsi, karena malu, mungkin buah kandungannya adalah hasil dari hubungan di luar nikah, tekanan batin karena hasil perkosaan, tekanan ekonomi dan lain-lain. Ilmu pengetahuan telah menemukan berbagai cara yang mudah untuk membantu proses aborsi seperti Kuret dengan cara penyedotan, peracunan dengan garam, histerotomi/caesar, pengguguran kimia prostaglandin dan sebagainya.
Tidak ada alasan benar bagi siapapun untuk membenarkan, mendorong dan melakukan tindakan aborsi. Berbagai bangsa terlebih Gereja sangat sepakat untuk menentang tindakan aborsi dan dengan tegas menyatakan hukumannya bagi pelaku aborsi. Namun tidak dipungkiri adanya persoalan pelit berkaitan dengan tindakan aborsi, misalnya jika suatu kondisi yang menurut ilmu kedokteran yang paling canggih, karena suatu akibat maka pilihannya ialah ibu atau anak, jika yang hendak diselamatkan adalah ibu maka anak dalam kandungan harus digugurkan atau dimatikan (maaf), tapi jika yang hendak diselamatkan adalah anak dalam kandungan maka sang ibu harus berkorban atau mengorbankan diri demi keselamatan si anak yang dikandung. Ada lagi kasus lain misalnya gadis usia sekolah hamil kerena pemerkosaan, atau kasus lain lagi gadis hamil karena melakukan hubungan antar saudara sedarah/kerabat keluarga yang sangat dilarang oleh masyarakat dan Gereja. Kasus-kasus semacam inilah yang seringkali digunakan untuk menentang posisi orang kristen dalam hal aborsi. Saya pikir siapapun binggung dengan kasus-kasus semacam ini?.
Konsili Vatikan II masih menyebut bahwa pengguguran adalah suatu “tindakan kejahatan yang durhaka” sebab Allah, Tuhan kehidupan, telah mempercayakan pelayanan mulia melestarikan hidup kepada manusia untuk dijalankan dengan cara yang layak baginya. Maka kehidupan yang luhur sejak saat pembuahan harus dilindungi dengan sangat cermat.
Kitab suci memang tidak pernah secara khusus berbicara mengenai aboesi, namun demikian ada banyak ajaran kitab suci yang dapat kita pegang untuk bertindak menentang perbuatan yang tidak manusiawi seperti tindakan aborsi. Yeremia 1:5 memberitahu kita bahwa Allah mengenal kita sebelum Dia membentuk kita dalam kandungan. Mazmur 139:13-16 berbicara mengenai peran aktif Allah dalam menciptakan dan membentuk kita dalam rahim. Keluaran 21:22-25 memberikan hukuman yang sama kepada orang yang mengakibatkan kematian seorang bayi yang masih dalam kandungan dengan orang yang membunuh. Hal ini dengan jelas mengindikasikan bahwa Allah memandang bayi dalam kandungan sebagai manusia sama seperti orang dewasa. Semakin jelas bagi kita ketika Allah berkehendak terhadap Yohanes, Alkitab mengatakan bahwa Yohanes Pembabtis penuh dengan Roh Kudus ketika ia masih berada dalam kandungan ibunya. Allah mengenal Yohanes dengan baik dan ia mempunyai rencana khusus bagi kehidupan Yohanes Pembabtis di dunia ini bahkan ketika ia masih berada dalam kandungan. Dari uraian singkat peristiwa Seorang Yohanes Pembabtis, sangat jelaslah bahwa kalau kita menghendaki, melakukan, dan mendorong tindakan aborsi bukankah kita sudah melawan rencana Allah yang sesungguhnya sudah ada sejak seorang bayi masih ada dalam rahim ibunya.
Menyikapi beberapa persoalan di atas, kalau suatu kondisi atau suatu keadaan sudah menimbulkan “keraguan” di hati atau sudah diluar kemampuan manajemen/tegnologi manusia maka tidaklah dipungkiri bahwa campur tangan Tuhan harus ada. Bagi orang beriman kalau kondisi delima yang dialami, yang hanya dapat memilih salah satu dari beberapa kemungkinan yang ada, seperti yang diungkapkan dalam kasus pertama yaitu ibu atau anak, maka jiwa atau roh lebih penting daripada badan/fisik. Saat-saat kerisis di tengah “keraguan”, manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang semakin sedikit dan waktu yang semakin sempit dan kita biasanya lupa akan adanya kuasa-Nya, yaitu Yoh, 1:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya..….
Teladan para santo dan santa pun dihadapkan akan pilihan-pilihan yang sangat sulit antara menyelamatkan diri atau diselamatkan-Nya, karena ketaatan iman kepada-Nya. Dan apakah setelah suami-istri memutuskan pilihan dengan rela, yaitu menyelamatkan anak dalam kandungan, akankah Tuhan menutup mata terhadap iman mereka berdua, siapa yang mengetahui pikiran-Nya? Dan berarti keputusan itu telah menyelamatkan dua nyawa sekaligus. Tentang pilihan ibu atau janin yang harus diselamatkan, biasanya kedokteran mempunyai pentimbangan medis tersendiri berdasarkan kondisi keseluruhan pada saat itu. Misalnya jika sang ibu tidak diselamatkan maka sang bayi juga tidak selamat, jika menurut diagnosa kedoktoren sang bayi masih sangat muda untuk dapat bertahan hidup (organ penting belum berfungsi sempurna). Dalam hal seperti ini pertimbangkanlah dengan sungguh-sungguh bahwa mengabaikan keselamatan sang ibu berarti juga mengabaikan keselamatan keduanya. Dan bila melalui operasi sang ibu dan bayi sama-sama memiliki kesempatan yang relatif sama untuk hidup namun harus memilih salah satunya maka sang bayi diutamakan karena sang bayi tidak mempunyai pertahanan apa pun untuk hidup kecuali perhatian serius dan sungguh-sungguh materi dan rohani, sedangkan sang ibu punya. Ketahuilah bahwa tidak ada kejahatan yang melebihi pembunuhan terhadap bayi yang tidak berdosa. Kita diingatkan bahwa kita telah menyalibkan dan membunuh Yesus Putra Allah yang tidak berdosa.
Pada kasus kedua dan ketiga seperti kasus perkosaan dan hubungan sedarah, aborsi bukanlah jalan keluar. Mungkinkah seorang manusia tidak berdosa harus dihukum untuk menanggung perbuatan dosa orang tuanya?. Anak yang lahir sebagai hasil perkosaan atau hubungan seks antar saudara yang masih mempunyai hubungan darah dapat saja diberikan untuk diadopsi oleh keluarga yang tidak mempunyai anak. Akhirnya keputusan dalam kasus aborsi hanya dapat diambil antara suami-isteri, keluarga dan Allah. Sesulit apa pun persoalan yang dihadapi berdoalah dan mintalah hikmat dari Tuhan (Yakobus 1: 5) untuk apa yang Tuhan mau mereka buat.
Menyikapi kemorosatan moral berkaitan dengan tindakkan aborsi maka sangat diharapkan kepada Gereja untuk tidak bosan-bosannya menyuarakan kebenaran yang didasarkan atas penghargaan terhadap hak hidup setiap manusia. Semua usaha kedokteran haruslah diarahkan agar tidak mengorbankan satu pun pihak yang tidak seharusnya dikorbankan baik ibu maupun sang bayi. Inilah salah satu prinsip moral Kristiani. Bukan hanya aborsi yang harus menjadi perhatian Gereja dewasa ini berkaitan dengan kemorosatan moral manusia akibat arus globalisasi yang membawa pengaruh positif sekaligus pengaruh negatif tetapi tindakan kontrasepsi (kontra-sepsi = anti-hidup) yang mengarah pada perlawanan akan rencana Allah bahkan ketika sebelum manusia dibentuk dalam rahim ibunya, Allah telah mengenal manusia dengan segala rencana-Nya. Apa tindakan kongrit yang dapat dilakukan Gereja, misalnya melakukan pembinaan iman atau konseling yang sesuai dengan situasi dan tuntutan jaman dan Gereja bagi keluarga-keluarga. Melakukan pengawasan dan pendekatan secara lebih mendalam kepada kaum muda baik langsung dilakukan Gereja melalui petugas-petugasnya maupun bekerja sama dengan keluarga-keluarga untuk mengarahkan mereka pada sikap dan tindakan yang sesuai dengan nilai luhur manusia sebagai citra Allah. Menyediakan rumah-rumah pembinaan bagi mereka yang sudah terlanjur jatuh (hamil diluar nikah) Dan usaha-usaha lain yang mungkin dapat dilakukan oleh Gereja mengingat kebutuhan yang mendesak ini.
Mau jadi katolik yang benar, kita perlu hidup dengan semua ajaran Gereja jangan asal pilih, seperti pilih sayur di pasar, sebab tindakan manusia adalah moral dan kelanjutan hidup manusia itu sendiri (77X7X).

Oleh Fransiskus Xaverius Samson: Mahasiswa STKIP Widya Yuwana Madiun
Diterbitkan pada Majalah UTUSAN (Yogyakarta)

Senin, 03 Mei 2010

PEREMPUAN RENDAHAN



“PEREMPUAN RENDAHAN”
Oleh: FX Samson

PEREMPUAN RENDAHAN, apakah anda pernah mendengar kalimat ini – ini bukan soal ukuran badan, tapi soal martabat sebagai manusia secitra? Kata ini sederhana, bukan?? Coba baca hanya tulusan besar dan digaris bawah, sampai dengan koma. Dan bayangkan kata itu ditujuakan kepada kamu (perempuan, dan kepada kamu laki-laki yang punya saudara perempuan atau kepada ibumu yang pasti adalah perempuan). bagaimana perasaanmu setelah kamu selesai membacanya?? Enak, sakit, marah, jengkel, tidak terima atau sejenisnya?.
Saya yakin 100%, kamu – yang berstatus perempuan akan senang kalau ada yang berkata: “ kamu seperti bunga mawar yang merekah, dan wangimu menyebar sampai ke penjuru dunia” atau seseorang berkata: “kamu seperti pelangi, yang tampak indah dalam biasan bintik-bintik air”.
Mawar yang tertutup, yang masih kuncup, ibarat cahaya yang masih tertutup oleh lapisan-lapisan jiwa. Apalagi mawar yang masih berupa batang, semakin jauh dari terpancarnya cahaya. Bukalah hatimu, mekarkan mawarmu.
Kamu akan seperti apa, itu tergantung dirimu sendiri. Kalau kamu melihat dirimu lemah, maka selamanya kamu akan dipandang lemah, dan tidak akan ada yang berkata: “ kamu seperi bunga mawa yang merekah”. Ada banyak alasan untuk mengatakan mengapa kamu lemah dan tak berdaya. Karena budaya?..karena pola pendidikan dalam keluarga, atau karena idiologi-idiologi lama? Dan kamu berfikir, dengan alasan itu orang lain akan memahamimu. Lalu kalau demikian, mengapa ada orang seperti bunda Theresa?, mengapa ada orang seperi ibu Kartini atau seperti Shamsia Husseini – perempuan yang tidak pernah menyerah oleh kondisi apapun serta tokoh-tokoh lainnya, mereka adalah perempuan tulen, bukan??.
Mulai detik ini, ketika kamu membacanya, Katakan bahwa AKU kuat, AKU berdaya sama seperti mereka!!! Buka, lalu masuklah ke dalam taman mawarmu. Bersihkan rumput-rumput liar di sana, gemburkan tanah, sirami batang mawar, halau jauh-jauh ulat yang memakan daunnya. Kemudian, bersabarlah, bersyukurlah, dan bertawakkallah serta berjuanglah. Suatu saat, jika kau melakukan ini semua, mawar itu akan berbunga, lalu merekah menyebarkan bau harum ke penjuru dunia. Kami mendukungmu dan Allah menyertaimu.