Rabu, 08 September 2010

KELUARGA MISKIN TAPI BAHAGIA




Temukan Mutiara Kebahagian

dalam keluarga


Oleh. Fx Samson




Di Mana Kebahagian?

Kekayaan identik dengan uang. Uang seringkali dilihat sebagai jaminan untuk memperoleh kebahagian. Apakah benar bahwa orang yang memiliki banyak uang itu bahagia? Bisa ya, bisa tidak. Lewat situs di nternet ditemukan penjelasan mengenai hubungan antara uang dan kebahagian. “Uang tidak bisa membeli kebahagiaan” ternyata memang benar. Sebuah survei di Australia menunjukkan, kaum kelas menengah di Sydney masuk kategori warga yang paling menderita di Australia. Sebaliknya, warga yang hidup di beberapa daerah pemukiman paling miskin malah lebih tinggi tingkat kebahagiaannya (http://pembelajar.com). Ada yang menilai penjelasan ini terlalu naif, lucu, dan sulit dipercaya.

Di desa Tempeh Lor, kecamatan Tempeh, Lumanjang didapati seorang ibu yang gelap mata, karena terlilit hutang. Dia mengajak dua putrinya bunuh diri dengan minum racun tikus. Untungnya mereka dapat diselamatkan. Ibu yang berniat membantu perekonomian keluarga dengan meminjam uang ketetangga berakhir dengan tragedi yang menyedihkan. Karena pembayaran pinjaman tersendat-sendat, akhirnya jumlah menumpuk, tidak kuat lagi membayar. Hasil kerja yang didapat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Meminjam uang untuk modal usaha adalah cara yang coba ditempun ibu ini agar dapat keluar dari persoalan ekonomi keluarga (Nyata, 11 Ags 2010, edisi 2040).

Harta Bukan Jaminan Tunggal untuk Bisa Bahagia

Dua fakta diatas menunjukan bahwa kaya atau miskin ternyata bukan jaminan untuk memperoleh kebahagian. Ada keluarga kaya yang bahagia dan ada pula keluarga miskin yang tetap bahagia. Keadaan ekonomi keluarga yang serba kekurangan memang sering kali menjadi masalah dalam keluarga. Tapi kesulitan ekonomi keluarga tidak boleh menjadi alasan untuk tidak bahagia. Harta bukan jaminan kebahagian. survei diatas menunjukan kebenaran itu.

Manusia harus menyadari bahwa keadaan miskin dan serba kekuarangan secara materi bukanlah nasib atau takdir yang harus diterima begitu saja. Memang ada orang miskin karena malas, boros atau kurang peluli. Setiap orang wajib bekerja, menghemat, menabung untuk menghadapi keadaan darurat.

Pada dasarnya tidak ada yang mau hidup dalam kemiskinan. Bukankah kemiskinan identik dengan ketidakpunyaan, kesengsaraan dan penderitaan. Namun perubahan sosial yang begitu cepat dan berat sebelah, menimbulkan semakin banyak manusia yang hidup dalam keterbatasan dan kekurangan. Maka, miskin bukan suatu cita-cita. struktur-struktur sosial dalam masyarakat tumbuh secara tidak seimbang. Mereka yang lemah terpaksa kalah dan harus menerima kenyataan pahit yang tidak mampu mereka ubah sendiri.

Merupakan tugas semua umat beriman untuk melawan berbagai bentuk kemiskinan yang merajalela. Struktur-struktur sosial yang tidak adil harus dihapus. Ajaran Sosial Gereja (SAG) yang berupaya menganalis keadaan sosial masyarakat dan telah menghasilkan berbagai teori agar keluar dari penindasan struktural harus direalisasikan dalam bentuk yang nyata di tengah masyarakat.

Jika terpaksa harus menjadi korban dari struktur-struktur sosial yang tidak seimbang, itu harus diterima dengan iklas. Dengan cara ini manusia bisa bahagia. Tapi bukan berarti menyerah dan pasrah. Berjuang untuk memperbaiki tarap hidup yang lebih baik tetap penting. Manusia memang membutuhkan harta benda/milik untuk menjalankan tugas-tugasnya. Tetapi keinginan terhadap kepemilikan tidak boleh menjadi alasan untuk menunaikan tugas-tugas mendasar hidup manusia, yakni menciptakan rasa damai dan bahagia. Keinginan terhadap kepemilikan tidak boleh mengabaikan kebutuhan dasar manusia yang bukan dijamin oleh harta benda itu sendiri. Kepemilikan hanya boleh menjadi sarana untuk mencapai kebutuhan dasar manusia, yakni kebahagian.

Selalu Bersyukur dan Sadari Realitas Ada

Dalam pandangan teologis soal kemiskinan bisa dipahami bahwa Allah yang kaya menjadi miskin untuk membuat manusia kaya. Ia mengosongkan diri untuk menjadi manusia, tidak hanya itu. Allah memilih dengan bebas kehidupan manusia, menandainya dengan kekurangan material. Dengan demikian disadari bahwa kekayaan sejati bukanlah materi sifatnya. Manusia boleh miskin secara materi, tapi manusia tidak boleh miskin secara rohani. Kekayaan yang sejati adalah kekayaan yang berasal dari Tuhan, yakni rahmat untuk selalu “bersyukur”. Rahmat inilah yang membuat manusia menjadi kaya secara tak terbatas, dan rahmat ini pula yang membuat manusia dapat menikmati kebahagian yang sejati. Keluarga miskin berarti keluarga yang kekurangan dalam kebutuhan-kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian dan tempat tinggal. Keluarga dalam situasi semacam ini bukan berarti tidak sanggup menjadi kaya secara rohani. Justru keluarga miskin punya peluang lebih besar menjadi kaya secara rohani. Sebab, Keadaan serba cukup kerapkali menyulitkan manusia untuk menyadari kelemahan mendasar hidupnya dan kebutuhan terhadap penebusan.

Kepada mereka yang tidak mempunyai kekayaan, mereka diajarkan oleh Gereja bahwa di mata Tuhan, kemiskinan bukan suatu aib/kutuk, dan tidak ada sesuatu yang memalukan tentang bekerja keras untuk mencari nafkah. Ini dibuktikan dengan apa yang terjadi dalam Kristus sendiri, yang “oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” (2 Kor 8:9); dan Ia yang adalah Putera Allah dan Allah sendiri, memilih untuk dilihat dan dianggap sebagai anak tukang kayu. Ia tidak merasa terhina untuk menghabiskan sebagian besar hidup-Nya sebagai tukang kayu. (lih. Mrk 6:3) (Rerum Novarum, 23).

Dengan melihat Teladan Ilahi ini, lebih mudah dimengerti bahwa nilai dan kehormatan sejati manusia terletak pada kualitas moralnya, yaitu di dalam hal kebajikan, yang adalah warisan umum manusia, yang sama terjangkaunya oleh mereka yang tinggi dan rendah, kaya dan miskin. Semua kondisi manusiawi akan diikuti dengan ganjaran kebahagiaan abadi, jika disertai dengan syukur. Tuhan sendiri kelihatan berpihak pada mereka yang menderita kemalangan; sebab Yesus Kristus menyebut mereka yang miskin sebagai yang terberkati/ berbahagia (Mat 5:3); Ia mengundang mereka yang bekerja keras dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya untuk memperoleh kelegaan (Mat 11:28) (Rerum Novarum, 24).

Ingat apa yang dikatan Fantasia Barrino, pemenang American Idol 2004 “Aku memang jelek dan Miskin tapi telah aku buktikan bahwa aku ada.” Dan itulah esensi terpenting manusia hidup di dunia: dia ada dalam arti dia bermanfaat bagi dirinya, bagi orang di sekitarnya dan bagi lingkungan yang lebih luas lagi kalau bisa: bagi bangsa dan negaranya.

Pandangan Fantasia Barrino bisa menjadi dasar untuk menemukan kebahagian pada keluarga miskin. Keluarga merupakan anggota masyarakat paling asisi. Melalui keluarga-keluarga kehidupan masyarakat ditentukan. Jika keluarga baik maka masyarakatnya baik. Jika keluarga buruk maka masyarakatnya buruk. Dengan demikian keluarga mempunyai arti penting dalam masyarakat. Dalam arti inilah keluarga dapat menunjukan keberadaan. Menyumbangkan hidupnya bagi masyarakat yang lebih luas. Dan dalam arti ini pula keluarga miskin bisa menemukan kebahagiannya. Keluarga yang berguna bagi masyarakat.

Apa yang diberikan keluarga bagi masyarakat bukan hanya menyangkut materi. Banyak kebutuhan dalam masyarakat, setiap kelurga dapat ambil andil didalamnya. Kebutuhan asisi dalam masyarakat adalah rasa damai dan bahagia. Maka setiap keluarga mempunyai tugas untuk menciptakan rasa damai dan bahagia. Hal ini tentu pertama-tama diciptakan dalam keluarga masing-masing.

Akhirnya mau dikatakan bahwa kebahagiaan sebenarnya hanya ada di dalam mereka yang sungguh-sungguh hidup di dalam Tuhan. Sehingga kemiskinan itu bukan alasan untuk tidak bisa menikmati kebahagiaan. Justru di dalam kemiskinan itu, Yesus mengatakan, "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah". Kasih anugerah-Nya yang pasti menjamin keluarga miskin selalu tercukupi dalam segala hal. Karena setiap orang dalam keluarga adalah anak-anak-Nya sendiri yang telah ditebus lunas oleh Tuhan Yesus Kristus (77X7X).



Alamat penulis

Mahasiswa STKIP Wadya Yuwana Madiun

Jln. Soegijopranoto (d/h.Jln. Mayjend. Panjaitan), Tromol Pos 13.

Madiun 63102

Minggu, 22 Agustus 2010

KELUARGA KATOLIK DAN PANGGILAN HIDUP RELEGIUS

“BERJUANG MELAWAN ARUS ZAMAN”
KELUARGA KATOLIK DAN PANGGILAN HIDUP RELEGIUS

Keluarga Kristiani
Konsili Vatikan II menamakan keluarga sebagai Ecclesia Domestica (Gereja rumah tangga). Sebagai Gereja mini, keluarga harus memberikan bekal iman yang mendalam bagi setiap anggotanya khususnya dalam hal ini adalah anak-anak. Bekal iman yang dimaksud yaitu mengenal Gereja dan menghayati nilai-nilai kristiani yang menjadi dasar untuk membangun Gereja secara universal. Bekal iman bisa diberikan lewat pendidikan oleh keluarga itu sendiri dan oleh lembaga-lembaga yang disediakan untuk membantu tugas itu. Gereja sungguh menyadari keterbatasan pengetahuan orang tua untuk menunaikan tugas yang berat dan mulia itu. Oleh karenanya disediakanlah sekolah-sekolah Katolik untuk membantu tugas orang tua dalam memenuhi tanggung jawabnya.
Pendidikan iman yang dimaksud yakni berusaha menmberikan semua hal yang dibutuhkan anak-anak untuk mencapai kedewasaan pribadi secara kristiani. Orang tua perlu mengajarkan bahwa betapa dalam dan besarnya cinta kasih Allah dalam Yesus Kristus kepada manusia. Orang tua membimbing dan membantu mereka untuk menghayatinya, menjadikan nilai-nilai itu sebagai milik pribadinya.
Inilah panggilan khas keluarga Kristen, mereka menyadari dan mengamalkan panggilan Tuhan. Maka keluarga menjadi persekutuan yang menguduskan, di mana orang belajar menghayati kelemahlembutan, keadilan, belaskasihan, kasih sayang, kemurnian, kedamaian, dan ketulusan hati. (bdk.Ef 1:1-4).
Paus Paulus VI mempertajam pengertian keluarga sebagai Gereja kecil dalam ensikliknya Evangelii Nutiandi, beliau menulis: ”Keluarga patut diberi nama yang indah yaitu sebagai Gereja rumah tangga (domestik). Ini berarti bahwa di dalam setiap keluarga Kristiani hendaknya terdapat bermacam-macam segi dari seluruh Gereja.” Sebagai Gereja, keluarga itu merupakan tubuh Yesus Kristus.
Apakkah masih relevan Gereja disebut tubuh Kristus? Selama kebencian masih bersarang di dalam tubuh keluarga, maka Kristus tidak pernah tinggal di dalamnya. Dengan demikian apa yang harus dilakukan oleh keluarga yakni berdoa dan trus berusaha mengembangkan cinta serta mohonlah kepada Tuhan untuk tinggal didalamnya, memberkati dan melindungi.
Dewasa ini Banyak keluarga tidak lagi menjadi Gereja mini, tetapi menjadi medan perang dalam Gereja dan dunia. Perceraian antara suami – istri yang marak akhir-akhir ini selalu mengorbankan anak-anak. Mereka harus memilih hidup hanya dengan ayah, atau hanya dengan ibu, atau tidak kedua-duanya. Dengan demikian mereka akan kehilangan kasih sayang yang seharusnya mereka dapatkan dan rasakan dari kedua-duanya. Keluarga menjadi tempat tumbuh subur kebencian, iri hati, persaingan, curiga, dll, yang akhirnya menghasilkan keluarga-keluarga yang hancur. Banyak orang dalam keluarga menjadi gelisah, putus asa, tidak berprikemanusiaan, depresi, tidak punya semangat hidup, stress, dll.
Miris rasanya mendengar berita seorang ibu yang tega menggorok leher anaknya yang baru berusia 14 hari dengan pisau dapur. Akibat perbuatan ibu yang demikian, anak yang tidak berdosa harus menjadi korban. Berita serupa dari desa Tempeh Lor, kecamatan Tempeh, Lumanjang didapati seorang ibu yang gelap mata, karena terlilit hutang. Dia mengajak dua putrinya bunuh diri dengan minum racun tikus. Berdasarkan dua berita baru tersebut kita menemukan bukti bahwa keluarga-keluarga telah mengalami krisis cinta. Keluarga tidak lagi menjadi tempat tumbuhnya cinta, tetapi menjadi tempat tumbuhnya kebencian. Keadaan ini memperihatinkan kita semua dan butuh usaha bersama untuk memperbaikinya. Keluarga Kristen juga dipanggil untuk berperan aktif menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera.
Panggilan Hidup Relegius
Semenjak seseorang lahir di dunia. Ia diajak untuk menyemarakkan alam semesta. Dengan demikian, baginya disampaikan panggilan agung, yaitu panggilan hidup sebagai manusia. Artinya, dia diajak untuk memenuhi suatu seruaan agar menjadi manusia sebaik mungkin. Apa yang dimaksud dengan manusia sebaik mungkin? Dalam hidup manusia, ia didorong untuk mengikuti kodrat hati dan budinya. Dalam proses, kodrat lebih kuat mendorong, lama kelamaan hati dan budi semakin terpengaruh. Hati dan budi itulah yang membantunya untuk memahami hidup sebaik mungkin, hidup yang terarah kepada kehendak Allah.
Orang-orang yang telah menerima sakramen permandiaan dikuduskan oleh kelahiran kembali dalam Roh. Ia menjadi tempat kediaman rohani dan tempat suci. Sebagai anggota tubuh setiap orang wajib hidup sebagaimana Putra-Nya, Yesus Kristus. Dengan demikian, permandian yang kita kenal dalam teradi Gereja Katolik merupakan sarana yang membuat seseorang dilahirkan kembali dari roh. Permandiaan adalah dasar semua panggilan di dalam Gereja. Melalui panggilan itu, manusia mendapat tugas dan peran yang berbeda sesuai dengan anugrah Allah. Tuhan memanggil sebagian dari kita untuk mengabdikan diri secara istimewa sebagai imam, biarawati dan anggota Ordo atau Tarekat Religius.
Ada kisah menarik dalam Kitab Suci tentang seorang anak muda yang dipanggil Tuhan, namanya Samuel. Oleh orang tuanya ia dipersembahkan untuk melayani Tuhan di Silo dalam pengawaasan imam Eli. Pada waktu Samuel dipanggil ia belum mengenal Tuhan. Samuel tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, karena itu ia datang kepada imam Eli. Berkat bantuan imam itu, Samuel menjawab panggilan Tuhan dengan mantap. Katanya “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar” (1Sam 3:10). Sejak panggilan itu, Samuel sering menerima firman Tuhan di Silo. Seluruh Israel mengenalnya sebagai nabi, imam dan hakim terakhir Israel.
Sama seperti Samuel, Tuhan pun memanggil semua orang untuk tugas khusus, teruma untuk menyatakan firman-Nya di tengah dunia. Untuk itu yang dibutuhkan ialah peka terhadap panggilan Tuhan dan terbukalah terhadap pertolongan orang lain disekitar kita.
Panggilan religius tidak dipisahkan dari peran keluarga. Keluarga dibutuhkan untuk membantu seseorang mengenal Tuhan dan mengimani-Nya. Setiap keluarga Kristen dipanggil untuk mempersiapkan, memelihara dan melindungi berbagai panggilan yang ditumbuhkan Allah dalam keluarganya. Panggilan di sini memang lebih ditekankan pada suatu panggilan khusus dalam Gereja seperti menjadi imam, biarawan dan biarawati. Justru dalam keluargalah panggilan-panggilan semacam ini tumbuh.
Samuel dilahirkan dari keluarga yang mencintai Tuhan dan mematuhi hukum-hukum-Nya. Dalam Kitab Suci ditunjukkan mengenai ketatan Hana dan Elkana, orang tua kandung nabi Samuel. Ziarah dan kurban tahunan Elkana dan Hana memperlihatkan bahwa mereka layak sebagai orang tua dari anak yang dikasihi Tuhan. Demikian juga yang diharapkan dari keluarga-keluarga kristen. Panggilan khusus sebagai biarawan dan biarawati harus dihormati oleh setiap keluarga. Keluarga kristen seharusnya merindukan dan selalu mendoakan agar panggilan ini ada dalam keluarganya.
Paus Yohanes Paulus II menekankan dalam amanatnya pada hari doa sedunia untuk panggilan bahwa setiap orang tua hendaknya mengetahui dengan baik bagaimana menanggapi secara terbuka rahmat dan anugerah yang diberikan oleh Allah kepada mereka apabila Tuhan memanggil salah seorang putera/putrinya menjadi imam atau suster. Rahmat semacam ini haruslah selalu dimohon dalam doa dan diterima secara aktif dengan cara memberikan pendidikan yang memungkinkan bagi anak-anak, terutama anak muda. Hendaknya mereka selalu mendukung anak-anaknya yang membuka diri terhadap panggilan hidup relegius. Jangan sekali-sekali menghalangi mereka. Suasana keluarga yang baik akan memungkinkan tumbuhnya benih panggilan. Panggilan tidak akan tumbuh dalam keluarga yang diwarnai oleh konsumerisme, hedonisme dan sekulaisme.
Berjuang Melawan Arus Zaman
Seperti telah dikemukakan pada bagian awal, bahwa keluarga dewasa ini mengalami krisis cinta. Keluarga-keluarga hidup dalam dunia yang mendewakan sek, hedonis dan materialis. Dengan demikian tantangan keluarga sebagai tempat bersemainya tradisi religius semakin berat. Keluarga-keluarga harus mampu bersaing dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi seperti TV, internet dan HP yang berkembang begitu cepat. Hal ini mestinya semakin disadari dan di imbangi, sebab keluarga tidak mungkin lari dari padanya, tetapi keluarga-keluarga bisa mengatasinya dengan cara-cara yang sesuai dengan ajaran iman kristiani.
Pendidikan iman adalah sesuatu yang penting bagi anak-anak. Di tengah dunia dewasa ini yang begitu sekular, pendidikan iman merupakan bekal penting untuk menjaga anak-anak agar tidak terbawa arus kemajuan zaman. Melalui pelayanan pendidikan dan melalui kesaksian pribadi, orang tua bagi anak-anaknya adalah bentara pesan cinta Injil yang pertama. Orang tua berdoa bersama-sama dengan anak-anak, membaca sabda Tuhan dengan mereka, dan memperkenalkan mereka kepada Tubuh Kristus melalui Ekaristi dan Gereja. Dengan cara demikian ini keluarga menciptakan kehidupan yang diwarnai iman dan cinta kasih yang menjadi ciri dari keluarga sebagai Gereja mini. Masing-masing keluarga hendaknya menjadi gereja Kecil tempat Yesus hadir dan kenisah tempat Roh kudus berdiam.
Berenang mengikuti arus ke mana sungai mengalir jauh lebih mudah dari pada harus berenang melawan arus sungai. Berenang mengikuti arus sungai bisa dikerjakan tanpa tenaga dan kerja keras, tetapi berenang melawan arus sungai dibutuhkan usaha keras dan perjuangan terus menerus tampa kenal lelah agar sampai pada tujuan yang dikehendaki. Ini suatu teori yang amat logis.
Tidak berbeda dengan kehidupan keluarga dewasa ini. Perkembangan zaman mengubah wajah dunia. Arus zaman membawa kita pada sikap hidup yang serba instan, membuat kita lebih bebas melakukan apa yang kita mau. Memang menyenangkan, tetapi juga harus dibayar mahal. Beberapa keputusan yang kita buat membawa dampak yang buruk. Biasanya dampak tersebut tidak terjadi seketika itu juga, namun lambat-laun dampak tersebut akan mendatangkan masalah yang serius bagi kita. Butuh perjuangan untuk melawan arus zaman yang berakibat buruk tetapi populer dan semua orang mendambakannya tanpa memikirkan akibatnya. Keluarga kristen dipanggil untuk melawan hal-hal yang membuat banyak orang semakin jauh dari Tuhan dan cinta-Nya. Keluarga kristen dipanggil untuk menumbuhkan benih-benih panggilan relegius dalam keluarga masing-masing.
Memilih hidup sebagai seorang biarawan atau biarawati pada zaman ini berarti memilih hidup yang berbeda dari pandangan kebanyakan orang. Dewasa ini, hampir semua orang berusaha dan berlomba-lomba memilih kehidupan yang dipandang bisa membuat namanya disebut-sebuat sebagai orang yang hebat dan luar biasa. Apa yang menjadi pandangan umum itulah yang dipilih dan diperjuangkan banyak orang. Banyak orang begitu mendewakan seks, hedonis dan materialis. Berbeda sekali dengan pilihan hidup sebagai biarawan dan biarawati, mereka meninggalkan semuanya demi kerajaan Allah dan pelayanan kepada sesama. Pilihan hidup demikian mengingatkan kita bahwa ada banyak hal yang lebih penting dari hanya sekedar hidup. Hidup itu suatu perjalanan, bukan tujuan (77X7X).

Minggu, 08 Agustus 2010

CINTA KASIH ALLAH KEKAL ABADI UNTUK SELAMANYA

“CINTA ALLAH KEKAL ABADI

UNTUK SELAMA - LAMANYA”

Bersama Rm. Fransiskus Xaverius Heriyatno.SJ, sejumlah mahasiswa STKIP Widya Yuwana Madiun melaksanakan kegiatan rettret tahunan yang dimaksudkan untuk memantapkan pilihan hidup menjadi pewarta kabar gembira Yesus Kristus sebagai katekis atau sebagai guru agama.

Rettret merupakan saat yang baik untuk berjumpa dengan Allah dalam keheningan dan kesunyian. Dalam situasi yang berbeda ini kita berusaha menemukan obat penawar kerinduan, kalau kita berjumpa dengan Allah maka didalamnya kita akan memperoleh cinta sejati, kegembiraan dan kedamaian oleh karena cinta Allah yang kekal abadi untuk selama-lamanya.

Matahari belum tenggelam, ketika acara rettret dimulai pada selasa 09 Februari 2010, pukul 16.30 di rumah rettret Panti Samedi Nasaret, Semarang.

waktu spesial segera dimulai, kata Rm. Heriyatno.SJ membuka session pertama, waktu spesial berarti, waktu untuk kita meletakan dasar sikap iman, kalau dasar iman sudah dipahami, maka pilihan hidup sebagai katekis adalah rahmat, panggilan yang harus terus menerus dimohonkan. Dan salah satu cara untuk memupuk spiritualitas hidup sebagai katekis ialah dengan menimba kekuatan Allah melalui perjumpaan dengan-Nya. Kegiatan rettret dalam beberapa waktu ini adalah salah satu caranya, tegasnya.

Jiwa kita butuh makan, bukan hanya tubuh saja yang perlu diberi makan, kalau jiwa kita tidak diberi makan, ia menjadi kosong, jika kosong, maka jiwa menjadi tidak berbeda dengan mayat yang berjalan, tanpa arah dan tujuan. Rettret juga dimaksudkan untuk memberi makan kepada jiwa, menemukan Allah yang sudah lebih dahulu mencintai kita tanpa syarat.

Melalui tokoh-tokoh dalam kitab suci kita bisa belajar banyak, harus diakui, bahwa dewasa ini tidak banyak kaum muda yang berani berkata lantang seperti Yesaya “Ini aku, utuslah aku” (Yes 6: 8), maka berbahagialah anda orang-orang muda yang bersedia menjawab panggilan Allah, entah dengan cara apa dan melalui peristiwa apa, yang terpenting adalah anda bersedia diutus kemanapun Allah mengehedaki.

Panggilan memang misteri, kita memahaminya tidak cukup hanya dengan rasio, tetapi lebih dari itu. Untuk memahami panggilan hidup yang kita jalani ini, kita membutuhkan “hati”, hati yang peka, hati yang terbuka, hati yang bersih dan hati yang penuh dengan kepasrahan secara total kepada rencana Allah. Abraham lebih memilih Ishkak daripada Ismael putra pertamanya. Ishkak berkeinginan memilih Esau, tetapi Allah ternyata mempunyai rencana yang lain, Yakub mendapat berkat dari Ishkak. Misteri panggilan dan pilihan Allah kerapkali membuat kita bingung, tetapi justeru itu yang dapat menguatkan kita orang-orang kecil dan lemah, orang-orang asing dan terpinggirkan menjadi kuat dan percaya, karena misteri panggilan dan pilihan Allah juga memberi gambaran pada misteri panggilan kita sebagai calon katekis, dengan demikian tidak ada lagi yang membuat kita takut dan khawatir. Percaya saja pada penyelenggaraan Allah.

YESUS ROTI HIDUP (YOH 6:51 – 58)

Lebih lanjut, Rm. Haryanto. SJ mengajak para peserta memahami Yesus sebagai roti hidup dan menyadari bahwa kita semua hidup karena roti yang turun dari surga. Allah berkehendak memberikan hidup abadi kepada umat-Nya di dalam Putra-Nya Yesus Kristus, Allah berkenan memberikan makanan sejati kepada umat manusia.

Sekarang Yesus memberikan dirinya melalui sakramen Ekaristi. Yesus menghendaki supaya peristiwa paska-Nya; wafat dan kebangkitan, menjadi jalan bagi keselamatan manusia dan senantiasa dirayakan dan dihadirkan yaitu melalui perayaan Ekaristi. Bagi umat beriman menyambut kehadiran Yesus dalam perayaan Ekaristi merupakan syarat supaya kita memperoleh hidup. Roti Tuhan yang kita terima dalam perayaan Ekaristi, bukanlah roti ajaib; kita minum anggur Tuhan itu juga bukan merupakan anggur kuat yang membuat kita secara otomatis menjadi lebih suci dan slamat. Yang diharapkan adalah hubungan timbal balik, kita menerima dan mengasihi-Nya, sebab Dia telah lebih dahulu mengasihi kita dengan memberi hidup dan nyawa-Nya demi keselamatan kita.

Namun agak sulit bagi kita memahami roti sebagai makanan, karena itu identik dengan makanan orang Eropa, maka beliau berikutnya memberikan penjelasan yang mudah dimengerti oleh para peserta – orang-orang Indonesia, yaitu dengan mengutip pemaparan seorang teolog dari Jepang; Masao Takenaka (1986). Untuk orang Jepang dan untuk orang Indonesia (Asia) kita lebih cocok mengatakan kalau roti hidup itu adalah “nasi”. Nasi merupakan bagian terpenting bagi hidup sebagian besar orang Asia, kita membutuhkannya setiap hari.

Untuk memperjelas pemaparan yang di ambilnya dari teolog terkenal dari jepang, maka romo yang berasal dari Gondang itu mengutup juga suatu puisi menarik bagi para peserta:

Surga adalah nasi

Seperti kita tidak dapat masuk surga sendirian

Kita harus saling memberi nasi untuk saudara-saidari kita

Dengan itu kita saling membagi terang surgawi

Kita harus membagi dan makan nasi secara bersama-sama

Surga adalah nasi

Ketika kita makan dan menelan nasi

Suarga berdiam di dalam tubuh kita

Nasi adalah surga

Ya, betul, itulah soal penting untuk nasi

Kita harus memakannya bersama-sama

Puisi ini memberikan gambaran terpenting bagi kita, terutama dalam membangun hidup commonio. Nasi surgawi dianugerahkan oleh Allah kepada kita semua, untuk hidup dan keselamatan kita. Dengan memakannya bersama-sama dengan adil dan penuh cinta kasih, kita dapat hidup dalam suasana harmonis dan damai. Tentu kita harus menyambut Yesus dengan penuh bakti dan syukur serta dengan semangat rendah hati, seperti sikap seorang perwira yang menyatakan “Tuan aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka aku akan sembuh (bdk. Mat 8:8).

YESUS AIR HIDUP (YOH 7:37 – 38 )

"Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup."

Kita diundang untuk menanggapinya, dan memang sabda undangan Yesus adalah sabda yang menyegarkan, memperkembangkan dan memberikan buah yang melimpah. Sebagai calon katekis, kita diharapkan sekaligus menjadi pendengar dan pelaksana sabda-Nya yang setia.

Dalam kehidupan sehari-hari tanpa kehadiran dan penyertaan Yesus, yang akan berkembang adalah cinta diri, dan itu sipatnya sangat sempit, berat sebelah dan bahkan dapat menghalangi perkembangan diri. Kalau terlalu sibuk dengan diri sendiri kita tidak dapat menemukan makna kristiani dari pergulatan hidup kita, wawasan menjadi sempit dan hidup menjadi hampa. Maka kita sungguh merindukan, mengharapkan dan membutuhkan bantuan Yesus.

Untuk itu Rm. Haryanto. SJ mengutip lagi amanat Kolumbanus yang turut menggemakan undangan Yesus sebagai berikut:

Saudara-saudari terkasih, dengarkanlah kata-kataku, bagaikan orang yang ingin mempelajari sesuatu yang pokok; lepaskanlah dahaga jiwamu dengan aliran sumber Ilahi. Tetapi jangan haus itu dipadamkan, minumlah, tetapi jangan menjadi puas; sebab sekarang ini sumber hidup, sumber air penghidupan memanggil kita dengan berkata “barang siapa haus, hendaklah datang kepadaKu dan minum”. Apa yang harus kamu minum? Yeremia akan menuturkan itu kepadamu, biar sumbernya sendiri yang akan mengatakannya kepadamu: ‘mereka sudah meninggalkan aku, sumber air hidup, sabda Tuhan’. Jadi Tuhan sendiri, Tuhan kita Yesus Kristus, adalah sumber hidup. Ia memanggil kita kepada-Nya, sang sumber, agar kita minum dari pada-Nya. Barang siapa cinta, ia minum dari pada-Nya; barang siapa telah dipuskan oleh sabda-Nya, telah menyembah secukupnya, dan telah mendamba, ia minum, demikian pula yang bernyala karena cinta akan kebijaksanaan.

Beginilah sepenggal kutipan yang disampaikan romo pendamping rettret kepada para peserta yang terdiri dari orang-orang muda, calon katekis, untuk membantu mereka lebih memahami makna roti Tuhan dan air Tuhan yang diberikan oleh Yesus untuk keselamatan jiwa dan raga.

KEKHASAN CINTA KRISTIANI

Untuk para calon katekis muda dan kelak akan berkarya dalam kehidupan masyarakat, baik kalau mereka diperkenalkan dengan arti mencintai, bukan sekedar itu, mereka harus belajar beberapa sifat khusus seni mencintai yang diajarkan oleh Yesus. Agar nanti, para katekis ini mampu memberikan cinta yang sejati; cinta Yesus, dalam pelayanan mereka kepada masyarakat untuk mengabarkan injil bagi banyak orang.

Cinta lekat dengan kehidupan kaum muda, tetapi cinta seperti apa? Ini yang perlu dipertanyakan dan dimurnikan.

Dalam hal ini, Rm. Haryanto, SJ selaku pembimbing rettret menawarkan suatu bentuk cinta yang tidak lazim di mengerti kaum muda, yaitu bentuk cinta yang dilakukan Yesus dengan kematian-Nya yang paling “hina” di kayu salib.

Mencintai Lebih Dahulu

Cinta Allah dalam Yesus dengan karunia Roh Kudus murni adalah tanpa jasa kita. agar kita pun tidak dipengaruhi oleh pamrih pribadi dan tidak mengharapkan apapun demi kepentingan pribadi. Cinta ini tidak hanya diberikan saat kita dicintai atau ketika ada motivasi yang lain, seperti biasa dalam persahabatan.

Cintailah terlebih dahulu, ambillah inisiatif. “Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh 4:19) dan kita harus berbuat demikian terhadap sesama kita, jangan menunggu untuk dicintai oleh orang lain, tetapi buatlah terobosan dan mulailah mencintai. Demikian ajakan St. Yohanes Chrysostomus. Dan yakinlah bahwa cinta itu dapat menular, maka mulailah dari anda dan tularkan cinta sejati kepada orang-orang disekitar anda.

Mencintai Setiap Orang

Jangan mencintai orang-orang dengan membeda-bedakan mereka, agar cinta Allah bersinar dalam kehidupan kita. “Allah menerbitkan matahari bagi orang jahat dan orang baik” (bdk. Mat 5:45), kita diundang menjadi matahari-matahari kecil dari matahari cinta Allah, maka dengan demikian setiap orang adalah sasaran cinta kita, untuk itu kita perlu berjumpa dengan mereka.

Kita perlu mendengar kutipan kata-kata ibu theresa “saya tidak pernah merawat semua orang, hanya pribadi-pribadi tertentu, “setiap orang memberi saya kemungkinan untuk mencintai Kristus. Satu saudara itu sudah cukup – ia yang karena kehendak Allah ditempatkan didepan saya – menjadi jalan yang personal saya dengan Yesus sendiri.

Mencintai Musuh

Mencintai musuh merupakan ciri khas cinta kristiani, bentuk cinta yang tidak pernah bisa dipahami tanpa iman. Cinta bentuk ini adalah cinta yang dituntut oleh Yesus jika kita hendak menciptakan perdamaian sejati. “apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu......apabila kamu memberi salam kepada saudara-saudaramu saja...bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian, tetapi aku berkata kepadamu: “kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 46 – 47).

Perintah untuk mencintai musuh oleh Yesus bukanlah kata-kata kosong, tetapi Dia sendiri telah lebih dahulu melakukannya, kita ingat peristiwa ketika Yesus di perlakukan seperti bukan manusia di bukit Golgota, tempat Ia disalibkan. Dengan tenang Ia berdoa bagi mereka yang membenci-Nya. Suatu sikap yang tidak dapat ditangkap oleh rasio, tetapi hanya dapat dipahami dengan iman.

Mencintai dengan Memberikan Hidupmu

Yesus adalah Allah dan cinta Yesus tidak terbatas. Ia mencintai dengan memberikan diri-Nya, utuh. Penginjil Yohanes memberikan kesaksian bahwa Yesus telah mencintai sahabat-sahabat-Nya, sampai memberikan nyawa-Nya dan tidak ada cinta yang lebih besar dari itu (Yoh 15:13). Yesus memberikan segala-galanya, tubuh-Nya sebagai makanan dan darah-Nya sebagai minuman dalam rupa Ekaristi. Maka dengan demikian, sebagai murid kita juga diundang untuk menghayati cinta yang demikian. Siap memberikan hidup kita kepada orang-orang yang bekerja sama dengan kita, siap memberikan hidup kita satu dengan yang lain.

Mencintai dalam Pelayanan

Melayani berarti menjadi pribadi demi kepentingan orang lain (man or women for others) termasuk menyamakan diri kita dengan mereka yang dilayani, merasakan suka–duka mereka, belajar berpikir seperti mereka, merasakan pergulatan hidup mereka dengan hati mereka, menghayati hidup mereka dan berjalan dengan menggunakan sandal mereka. Untuk suatu pelayanan, Yesus dengan sempurna telah memberikan contoh kepada kita “Dia merendah dihadapan para murid dan dengan penuh pelayanan membasuh kaki mereka satu demi satu, dan kata-Nya: “supaya kamu berbuat sama seperti yang telahKu perbuat kepadamu” (Yoh 13:15)

Ibu Theresa mengajarkan dan memberikan contoh pelayanan yang relevan bagi kita di zaman ini. Pelayanan tidak harus besar tetapi perbuatan kecil dengan cinta yang besar. Demikian juga shering pengalaman yang penuh inspiratif bagi kita dari seorang uskup bernama Nguyun Van Thuan saat di penjara dan ketika ia merenungkan panggilan orang Katolik.

Ketika dalam penjara ia bersahabat dengan banyak orang yang mengalami nasib sama sebagai korban ketidakadilan. Ia juga bersahabat dengan para penjaga penjara. Dalam penjara ia membuat salib dan kalung, hal itu bukan untuk mengingatkannya pada penjara, tetapi keduanya menyatakan keyakinan uskup tersebut bahwa cinta kasih kristianilah yang dapat mengubah hati, bukan senjata, ancaman atau media massa. Kasih mengalahkan segala sesuatu. Kasih mempersiapkan jalan bagi injil, jika kasih adalah kasih sejati, maka ia telah menggerakan untuk menanggapi kasih yang lebih besar. Dengan demikian kasih baru yang di ajarkan Yesus sungguh-sungguh terwujud “kasihilah satu sama lain sama seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12) kasih timbal balik adalah seni mencintai.

Bunda Maria memiliki seni mencintai yang sempurna. Ia seperti bulan yang memantulkan cahaya keindahan matahari yang adalah Yesus, semua perasaannya dan khususnya kasihnya. Di luar Tritunggal Mahakudus, orang katolik tidak dapat menemukan kasih Allah, dan kasih semua umat manusia yang setara dengan kasih bunda Maria.

Seni mencintai adalah mencintai Yesus (Yesus adalah cinta). Seni mencintai adalah mencintai sama seperti bunda Maria dalam mencintai. Maria adalah cinta yang diterima, mengapa demikian? Segala sesuatu berasal dari Allah, datang dari tempat yang tinggi dan bunda Maria telah menyambutnya dengan penyerahan diri, penuh iman dan syukur. Cinta yang dibalas, artinya ia telah menjawab tawaran Allah dengan seluruh keberadaannya “jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). dan Maria adalah cinta yang dibagi, maksudnya: Maria yang menerima anugerah Allah, menyambut dan membaginya kepada Elisabet, saudaranya dan anak yang dikandung Elisabet melonjak kegirangan serta cinta itu telah dibagikannya kepada kita pula. Kita telah memperoleh bagian dari anugerah Maria melalui Gereja secara misterius. Semua yang menerima cinta yang dibagi-bagi itu memperoleh kebahagian dan kegembiraan dalam Tuhan.

SUKACITA

Ada banyak alasan bagi kita ketika berusaha menanamkan sukacita dalam hati kita. Namun hati yang bersukacita dan bergembira adalah hasil wajar dari hati yang terbakar karena cinta ialah benar!. Sukacita adalah doa, kekuatan dan cinta, orang akan memperoleh lebih banyak kepada hati yang rela memberi dengan sukacita. Sukacita tidak dapat disembunyikan, ia memancar dari mata kita dalam pengelihatan, percakapan dan kesenangan kita. Kita tidak kuasa untuk menutup-nutupinya karena ia akan meluap. Sukacita itu menular, maka dari itu, cobalah penuhi diri kita dengan sukacita kemanapun kita akan pergi.

Sukacita harus menjadi salah satu dari proses kehidupan kita, karena itu merupakan bukti kepribadian yang murah hati. Kita yang sampai pada kesadaran ini mempunyai anugerah kehidupan yang tertinggi, seperti matahari bersinar cerah dalam komunitas dan lingkungannya. Maka dalam hal ini, baiklah kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita mempunyai dan mengalami kegembiraan untuk mencintai. Kata ibu Theresa “mencintai sampai sakit dan terluka akan membawa kegembiraan dan sukacita tersendiri bagi yang melakukannya. Oleh karena itu kita terus berdoa memohon kekuatan dan keberanian untuk mencintai. Menurut St. Bonaventura sukacita adalah sesuatu yang telah diberikan kepada manusia sehingga dia dapat bergembira di dalam Allah karena pengharapan akan kebaikan abadi dan semua keuntungan yang dia terima dari Allah, maka kita tahu bagaimana bersuka cita terhadap apapun, karena Allah, tidak pernah puas dengan hal-hal kosong yang sia-sia.

Penjelasan tentang sukacita ini dikutip Rm.Hariyanto. SJ dari renungan Becky Benenate (ed.), In the Heart of the World: hidup untuk Allah. Dan disarinya juga dari pandangan A. De Mello.

KARENA DEUS CARITAS EST: ALLAH ITU KASIH (1 Yoh 4: 7–21)

DAN KITA DI UTUS MENGASIHI DIDALAM SEGALANYA

Pada hari trakhir rettret, Rm. Hariyatno Mengajak sejumlah peserta untuk merenungkan ajakan Paus Benediktus XVI dalam melangkah, meniti dan menghayati panggilan sebagai calon-calon katekis, dalam cinta yang bersumber pada cinta-Nya yang kekal dan abadi. “Cinta” merupakan kesimpulan dari seluruh perjalanan rettret selama 4 hari, katanya.

Pada tanggal 25 Januari 2005 paus Benidiktus XVI menerbitkan ensikliknya yang pertama, berjudul Deus caritas est – Allah adalah cinta. Cintanya yang kekal selalu mengundang, memperkembangkan, dan meneguhkan harapan kita untuk melangkah lebih mantab di hari esok. Cinta Allah itu istimewah yang di lukiskan pada masing-masing nama kita pada telapak tanggan-Nya (bdk. Yes 49:16). Cintanya tetap mengalir walaupun kita gagal, kecewa dan lemah. Karena itu, cinta Allah menjadi sumber harapan yang bernyala dalam hati kita, menyalakan kembali terang yang lebih besar serta daya kekuatan kita yang sering timbul tenggelam.

Hidup dan iman orang kristiani dibangkitkan oleh perjumpaan dengan Allah yang telah berbagi hidup, kalau kita terus melangkah maju Dia selalu hadir, dalam usaha kita Dia turut berjerih payah, dan jika kita mencintai segalanya mengalir dari atas didalam dan melalui Roh-Nya, Allah berkarya agar kita dimasa-masa yang akan datang hidup dalam kebaikan dan kebenaran.

Dengan penuh harap, pada hari trakhir retret, Rm. Hariyatno. SJ sekali lagi mengajak para peserta – orang-orang muda – mahasiswa, membaca dan merenungkan Deus caritas est: Allah itu kasih. Sehingga dengan demikian rettret yang telah berjalan selama 4 hari menghasilkan buah yang berlimpah dalam pelayanan anda semua. (Ditulis oleh FX. Samson)

Kamis, 20 Mei 2010

KAUM MUDA

KAUM MUDA TULANG PUNGGUNG GEREJA

FX. SAMSON

Kaum muda adalah tulang punggung dan harapan di tengah masyarakat dan dalam Gereja. Kaum muda adalah realitas hari ini bukan sekedar harapan untuk hari esok, mereka adalah sumber energi dan vitalitas bagi keberadaan masyarakat dan Gereja dari waktu ke waktu. Kekuatan dan keberadaan mereka yang esensial itu menuntut adanya perhatian khusus dari pihak-pihak pemerhati kaum muda yaitu para orang tua, negara dan Gereja. Seperti yang diungkapkan Dokumen Konsili Vatikan II dalam deklarasi pendidikan kristen Gravissimum Educationis (GE)

Perlu disadari bahwa dalam proses kreatif, jiwa, darah, semangat dan gejolak muda tidak jarang menjebak mereka pada sikap dan tindakan yang kurang tepat, karena gejolak mudanya yang emosional dan sulit diatur, sering kali tidak terkontrol. Namun orang muda butuh pengalaman, dalam usia mudanya ia menggunakan segenap kemampuan dan talentanya yang sedang dicari dan dikembangkan, mereka terus mencoba dan berjuang dengan semangat mudanya. Di sinilah kehebatan sekaligus jebakan yang sangat membahayakan bagi kehidupan mereka selanjutnya. Kaum muda berjiarah bersama jaman, mereka berlari secepat waktu yang terus berlalu, bila tidak demikian mereka akan dikatakan ketinggalan jaman. Mereka masih lemah dan rapuh serta seringkali dikorbankan oleh struktur-struktur penindasan dalam dunia dewasa ini.

Situasi kaum muda hendaknya dipahami dari berbagai realitas kompleks, dan latar belakang kehidupan mereka di tengah dunia dimana mereka hidup. Berbagai bentuk perubahan yang cepat dan drastis dalam segala bidang kehidupan, bidang kebudayaan, politik, sosial ekonomi, serta ledakan media massa, secara radikal berdampak bagi kehidupan kaum muda diseluruh penjuru dunia. Kaum muda dengan segala macam latar belakang, kaya dan miskin, kota dan desa, terpelajar dan bodoh, bekerja atau menganggur, terorganisasi atau tidak terorganisasi, semuanya sedang terombang ambing oleh gelombang kebudayaan kontemporer. Memahami dan menyikapi situasi dan kondisi kaum muda perlu diusahakan penanganan yang ekstra, oleh para orang tua, negara dan Gereja.

Pesoalan sekarang ialah, bagaimana membuat kaum muda mempunyai Roh yang mampu menggiring mereka kepada harapan dan cita-cita para orang tua, masyarakat dan Gereja. Roh tidak dibatasi oleh ruang, dan kaum muda memiliki roh yang sangat kuat dan sanggup menghantam segala rintangan demi tujuannya, cita-citanya dan harapannya. Tugas para orang tua, masyarakat dan Gereja untuk memberi ruang gerak, mendidik, mengarahkan bagi kekuatan roh yang sudah mereka miliki, agar mereka mampu menjadi peribadi-peribadi pembangun yang handal.

Gereja secara khusus telah berusaha dengan segala daya upaya memberikan pendampingan kepada kaum muda dengan berbagai bentuk pendampingan kategorial kaum muda. Secara sederhana dapat dirumuskan tujuan pelayanan pembinaan kaum muda dalam Gereja dengan dua kata “kedewasaan iman” artinya bahwa Kristuslah yang menjadi sumber dan tujuan serta tolak ukur dari kewasaan tersebut.

Hendaknya Roh yang mereka miliki adalah Roh Kristus. Roh Kristus itulah yang menjadi pendorong gerakan kaum muda dalam kaitannya dengan peranan mereka di tengan masyarakat dan dalam Gereja. Di atas telah dikatakan bahwa orang muda berjiarah bersama waktu dan berlari secepat waktu. Memahami situasi ini berarti memahami apa yang harus dilakukan Gerja khususnya dan pendamping/pemerhati kaum muda pada umumnya. Berlari bersama kaum muda bukan berarti mengawasi, mendeteksi atau membatasi gerak langkah kaum muda. Tantangan para orang tua, masyarakat dan Gereja serta pemerhati kaum muda dewasa ini ialah bagaimana memformat pendampingan yang relevan dengan kebutuhan kaum muda sekarang.

Secara konseptual pendampingan perlu diarahkan pada dua aspek yaitu aspek pengembangan iman menuju kedewasaan iman dan aspek pengembangan hidup sosial kaum muda. Pendampingan kaum muda hendaknya mengarahkan mereka untuk melihat dan menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi disekeliling mereka. Kedua aspek tujuan pendampingan kaum muda menyangkut dua dimensi fundamental, yaitu demensi vertikal berkaitan dengan relasi dengan Allah sebagai Bapa dan dimensi horisontal berkaitan dengan relasi terhadap sesama.

Jadi jelas bahwa kedewasaan iman yang diharapkan untuk diarahkan kepada kaum muda bukan hanya soal hubungan pribadi dengan Allah dalam pelaksanaan kegiataan ibadat seputar altar saja, tetapi menyangkut semua segi kehidupan manusia seutuhnya, yaitu relasi yang harmonis dengan Allah Bapa dalam putra-Nya Yesus Kristus sebagai Roh yang memberi kekuatan dan dinyatakan dalam hidup dengan sesama baik dalam komunitas kecil “keluarga” maupun komunitas dalam masyarakat yang lebih luas.

Berbagai metode dan serategi pembinaan kaum muda adalah usaha untuk menjawab tantangan Konsili Vatikan II dalam Gravissimum Educationis(GE) bahwa yang bertanggungjawab atas pembinaan dan pendidikan kaum muda ialah para orang tua, negara dan Gereja. Ketiga lembaga ini harusnya bergandeng tangan untuk menjadikan kaum muda sebagai manusia dewasa yang mampu berdiri sendiri dan bertanggung jawab serta berguna bagi sesama dan masyarakat sebagai perwujudan cinta kepada Kristus.

Pertanyaan yang perlu menjadi refleksi sekarang ialah sanggupkah para orang tua, negara dan Gereja menjadikan kaum muda ibarat air? yang mampu memeberikan manfaat, kesejukan, kenikmatan, dan kepuasan saat meneguknya. Bisakah para orang tua masyarakat dan Gereja dapat dilebur bersama uniknya kaum muda sehingga menjadi dinamis dengan karya kritis dan produktif laksana air sungai yang mengalir terus? Ataukah para orang tua, masyarakat dan Gereja akan menjadi bumerang yang akan menelan kreatifitas dan kesanggupan kaum muda dalam mencapai pribadi-pribadi yang mandiri dan matang bagi kehidupan Gereja dewasa ini.

Sesungguhnya Gereja kaum muda yang efektif adalah Gereja kaum muda yang berkontribusi bagi sesamanya, tidak diam! air diam akan menjadi kotor dan menjadi sumber penyakit, lain halnya dengan mengalir. Gereja yang berguna adalah Gereja yang sanggup bersosial dengan sesamanya dan alam sekitarnya. Kehadirannya memberikan kenyamanan dan kenikmatan bagi masyarakat disekitarnya jauh dari prinsip homo homini lupus bahkan dirindukan selalu hadirnya (77X7X).

STKIP WINA Mahasiswa Fakultas Pendidikan Teologi (Guru Agama Katolik)

Di terbitkan pada Majalah BERKAT (Keuskupan Malang)

POLITIK

BERPOLITIK UNTUK MENGUBAH SISTEM DARI DALAM


Apatisme politik tidak boleh diteruskan sebab tidak akan membawa bangsa ini pada perubahan. Perubahan akan tercapai jika umat katolik dengan dijiwai spiritualitas kristiani turut serta dalam kehidupan politik.

Hal itu disampaikan Vikaris Jendral Keuskupan Surabaya, Rm. PC. Edi Laksito, Pr. dalam diskusi bertema, “Apatisme Politik Kaum Muda” usai pelantikan Dewan Pimpinan Cabang PMKRI Cabang Madiun “Sanctus Ambrosius” Periode 2008-2009 di aula kampus STKIP Widya Yuwana Madiun (28/9).

Lebih lanjut mantan moderator PMKRI Surabaya ini mengatakan bahwa apatisme politik seringkali dipraktekkan oleh umat katolik terutama kalangan muda. Padahal menurutnya, umat katolik relatif memahami kondisi sosial kemasyarakatan di negeri ini. Memang, apatisme politik memiliki alasan antara lain, adanya ketidakpercayaan pada organisasi politik sebab kesejahteraan umum yang dijanjikan tidak tercapai, pemilu tidak memberikan keuntungan secara langsung kepada masyarakat pemilih, lembaga politik tidak mengembangkan masyarakat, demokrasi yang berjalan tanpa roh sama sekali, politik dijadikan sebagai arena bisnis (money politics), dan tidak adanya figur pemimpin yang mampu menggetarkan hati. Namun, sikap tersebut kurang tepat sebab hanya keterlibatanlah yang mampu melakukan perubahan.

Di hadapan peserta yang terdiri atas mahasiswa dari organisasi intra dan ekstra kampus, kelompok kategorial Gereja, dan tokoh umat tersebut beliau menegaskan bahwa negara itu perlu dan dikehendaki Tuhan dan tidak ada iman yang menentang negara. Seperti halnya dengan Gereja, negara pun membutuhkan pemimpin yang bertugas untuk membawa masyarakat pada kesejahteraan. Umat katolik perlu melahirkan sikap kritis sebagai langkah awal membuka kesadaran politik. Dengan demikian, umat katolik dapat berperan serta dalam dinamika politik negeri ini dengan membangun rasa cinta tanah air tanpa membedakan golongan. “Bangsa ini milik semua orang Indonesia yang membutuhkan kepedulian dan keterlibatan semua warga tanpa mengenal sekat-sekat perbedaan”, katanya sambil memberi dorongan.

Selain Vikjen Keuskupan Surabaya, turut berbicara pula salah seorang anggota penyatu PMKRI, Drs. Antonius Sudarmanto, MS. Senada dengan Vikjen, Dosen Universitas Widya Mandala Madiun yang menjabat anggota KPUD Kota Madiun tersebut mengatakan bahwa apatisme politik membuat kita tidak memiliki akses terhadap politik. Dengan demikian, jika ada kebijakan politik yang merugikan masyarakat termasuk produk undang-undang yang bernuansa diskriminatif, jangan sekali-sekali mempersalahkan politisi sebelum mempersalahkan diri sendiri yang tidak mau terlibat dalam bidang politik.

Salah satu dari dua anggota KPUD yang beragama katolik di seluruh Jawa Timur itu mengatakan bahwa politik itu baik sehingga tidak perlu dihindari. Kalaupun ada stigma bahwa politik itu kotor, orang katolik harus terpanggil dan terlibat untuk melakukan perubahan sistem dari dalam sehingga politik kembali pada tujuan sebenarnya yaitu untuk kebaikan semua orang. Kalah menang dalam politik bukan hal yang hakiki tetapi setidak-tidaknya kita harus merasa bangga sebab kita sudah menanggapi panggilan untuk menjadi pelayan melalui dinamika politik di negeri ini. “Kita dipanggil untuk berpolitik. Politik memungkinkan orang katolik untuk memberikan pelayanan bagi orang lemah dan tertindas. Kaum muda katolik bisa memulainya dengan belajar melalui organisasi-organisasi seperti PMKRI”, sambungnya.

Sementara itu, Ketua Presidium DPC PMKRI Madiun “Sanctus Ambrosius” Periode 2008-2009, Yohanes Manasye dalam sambutan pelantikannya mengajak kaum muda terutama mahasiswa yang tergabung dalam PMKRI untuk memaknai kembali semboyan misioner Pro Eclesia et Patria yang menurutnya sering kali dipekikkan dengan tanpa kesadaran dan pemaknaan. Menurutnya, apatisme merupakan pengingkaran terhadap misi Gereja di tengah dunia. Sebagai bagian dari Gereja, PMKRI berkewajiban untuk menghadirkan wajah Gereja dalam pergumulan masyarakat. Selain itu, kaderisasi dalam PMKRI harus mampu melahirkan calon-calon pemimpin berintegritas katolik sebagai jawaban atas krisis kader pemimpin di negeri ini. (77X7X)

Mahasiswa dan anggota PMKRI Cabang Madiun, “Sanctus Ambrosius”

Diterbitkan pada Majalah Mingguan Hidup (Jakarta)